09 Juni 2026
Opini

Zona Literasi Psikoedukasi Berbasis Komunitas di Gampong Jawa

Oleh : Dina Purwati - Mahasiswi Psikologi, UIN Ar-Raniry Banda Aceh

OPINI - Bagi sebagian orang, Gampong Jawa adalah ujung linier dari konsumerisme kota Banda Aceh, sebuah titik akhir di mana ribuan ton sisa kehidupan urban bermuara di sana. Riuh di telinga dan narasi yang melekat pada kawasan pesisir itu tidak jauh dari bau menyengat, kepulan asap sampah yang dibakar, dan riuh rendah para pemulung yang bertarung nasib demi rupiah di atas gundukan limbah. Namun, hal itu menjadi langkah awal saya yang tergabung di ikatan lembaga mahasiswa psikologi indonesia terdorong untuk mengadakan volunteer zona literasi mental sebagai program kerja wilayah VII ILMPI yang mana dianggotai khusus oleh Mahasiwa/i Psikologi yang ada di Banda Aceh.

Kegiatan ini bukan sekadar program kerja yang terlaksana tanpa makna dan hanya formalitas lembaga saja. Ini adalah bentuk luapan emosi saat melihat langsung kondisi lingkungan di sana yang lahir dari inisiatif dan kepedulian hingga akhirnya mendobrak keberanian saya untuk menemui Keuchik dan perangkat desa sekaligus mencari tahu apa yang sebenarnya menjadi kebutuhan mendasar anak-anak Gampong Jawa. Dari sana, saya mulai bergerak, membawa dan membicarakan hal tersebut ke lembaga, menyusun konsep, hingga mengurus dan menyerahkan langsung surat izin resmi kepada Keuchik sampai akhirnya kegiatan tersebut benar-benar bisa terlaksanakan.

Zona Literasi Mental ini akhirnya dirancang sebagai bentuk psikoedukasi berbasis komunitas untuk memberikan stimulasi kognitif dan motorik secara bertahap setiap hari Minggu: mulai dari mengasah fokus lewat menulis di minggu pertama, membangun empati dan regulasi emosi melalui aktivitas membaca, bercerita dengan mengenal emosi melalui emot di minggu kedua, hingga melatih logika berpikir di minggu ketiga. Namun, tantangan alam sempat menguji kami ketika bencana banjir melanda Aceh dan menunda agenda pamungkas. Disitulah saya melihat langsung apa yang disebut dengan resilience pada diri anak-anak Gampong Jawa. Semangat belajar mereka tak pernah surut. Bagi saya kegiatan ini adalah sebuah oase psikologis dan esensial yang kehadirannya mampu mengajak, menuntun anak-anak setempat agar tidak sekadar bertahan hidup, melainkan mampu melihat potensi masa depan yang jauh melampaui dinding-dinding gundungan limbah di sekitar mereka.

Selama ini, kemiskinan struktural sering kali berjalan beriringan dengan pengabaian terhadap kesehatan mental dan literasi. Di mana anak-anak tumbuh dengan cita-cita yang linear: melanjutkan estafet orang tua mereka menjadi bagian dari ekosistem TPA itu sendiri. Di sinilah Zona Literasi Mental masuk sebagai sebuah intervensi yang cukup radikal untuk ukuran lokal.

Mempertahankan detak jantung zona literasi mental ini tidaklah mudah. Ada banyak kesabaran yang harus kami tanam, ada banyak kelembutan yang harus kami berikan. Tantangan kami bukan sekadar teknis, melainkan keterbatasan waktu dan dinamika manusia di dalamnya. Sering kali kami harus bersabar saat anak-anak lama sekali datang ke taman edukasi, atau bahkan ada yang tidak hadir sama sekali dengan alasan harus membantu pekerjaan orang tuanya.

Hingga pada suatu pertemuan, kami sengaja meluangkan waktu khusus hanya untuk mendengarkan mereka bercerita tentang keseharian mereka. Di momen itulah tirai realitas itu terbuka. Sebagai mahasiswa psikologi, saya perlahan paham bahwa beragam karakteristik dan respons emosional yang mereka tunjukkan, baik itu sikap defensif, apatis, atau sebaliknya, semuanya adalah cerminan yang lahir dari pola asuh di rumah dan aktivitas yang mereka jalani sehari-harinya.

Dari sanalah hal yang paling berkesan itu lahir, Dimana zona literasi mental menjadi ruang pertemuan antara dunia yang selama ini terpisah: relawan muda, mahasiswa psikologi, dan anak-anak pesisir TPA. Interaksi ini melahirkan sebuah modal sosial yang tak ternilai. Anak-anak yang awalnya takut dengan psikologi yang diselimuti oleh persepsi “bisa baca pikiran orang”, namun disitu muncul rasa bangga dalam diri saya karena mereka tak hanya pernah mendengar tetapi juga tau kata “psikologi”. Hal lain yang membuat saya terkesan yaitu mereka pada berkata “Kakak tiap minggu datang kesini terus ya belajar dan main sama kami”.

Pengalaman ini mengajari saya bahwa keberhasilan sebuah kegiatan tidak cukup hanya diukur dari seberapa mewah dan besar skala kegiatannya. Akan tetapi, seberapa mampu menyentuh akar, itu jauh lebih bermakna karena mampu menyimpan beribu cerita perubahan dan memberikan ruang aman yang nyata bagi jiwa-jiwa yang butuh didengar dan sedang tumbuh di luar sana.

Detak jantung Zona Literasi Mental adalah bukti hidup bahwa masa depan Gampong Jawa tidak ditentukan oleh seberapa tinggi tumpukan sampah di TPA-nya, melainkan oleh seberapa tinggi kita mampu menerbangkan cita-cita anak-anak yang tumbuh di sekitarnya. Meski kegiatan ini belum menjadi faktor pelindung (protective factor) permanen, namun gerakannya sejalan dengan studi resiliensi Emily Werner (1993) bahwa anak di lingkungan sesulit apa pun tetap punya peluang sukses.

Di tengah faktor risiko (risk factors) kemiskinan struktural, kehadiran kami menjadi pemantik (catalyst) yang mengenalkan ruang aman dan cara pandang baru. Lewat stimulus ini, resiliensi internal mereka diharapkan mulai tumbuh, meyakinkan mereka bahwa cita-cita dan masa depan yang mereka miliki jauh lebih besar daripada keterbatasan lingkungan tempat mereka tumbuh. Empat kali kegiatan kami terlaksanakan, disana sudah tampak bahwa dari tempat yang sering dianggap sebagai akhir, sebuah awal yang baru justru sedang ditulis dan diukir oleh mereka disana.