18 Januari 2026
Sosial
BANJIR ACEH TAMIANG

Solidaritas Tanpa Batas, Kepedulian Warga Blang Awe untuk Aceh Tamiang

LIPUTANGAMPONGNEWS.ID
Di tengah duka dan luka yang belum sepenuhnya kering akibat banjir bandang, Gampong Blang Awe, Kecamatan Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya, justru menampilkan wajah kemanusiaan yang begitu menggetarkan. Gampong kecil yang menjadi salah satu wilayah terdampak terparah itu memilih untuk tidak larut dalam duka. Dibalik lumpur banjir, sawah dan kebun yang rusak, tumbuh semangat kepedulian yang melampaui batas wilayah dan kepentingan diri sendiri.

Mayoritas warga Blang Awe adalah petani sawah dan petani kebun. Banjir bandang tak hanya merusak rumah, tetapi juga sumber penghidupan mereka. Namun keterbatasan itu tidak memadamkan nurani. Saat kabar duka datang dari Kabupaten Aceh Tamiang yang juga dilanda banjir bandang yang lebih parah dari Pidie Jaya, warga gampong Blang Awe justru tergerak untuk berbagi, meski mereka sendiri masih berada dalam fase pemulihan pascabencana.

Atas inisiatif Maskur, Keuchik Gampong Blang Awe, masyarakat mulai mengumpulkan bantuan kemanusiaan secara swadaya. Tidak ada paksaan, tidak ada target jumlah, yang ada hanyalah panggilan hati dan rasa persaudaraan sesama anak bangsa. Dari rumah ke rumah, dari tangan ke tangan, logistik dikumpulkan dengan penuh keikhlasan untuk disalurkan kepada korban banjir di Aceh Tamiang, Sabtu (3/1).

Warga Blang Awe dengan sukarela menyisihkan sebagian rezekinya. Ada yang menyumbang beras, ada yang menyiapkan kebutuhan pokok, ada pula yang menyumbangkan tenaga dan waktu. Semua dilakukan dalam suasana gotong royong yang hangat, seolah ingin mengatakan bahwa penderitaan tak pernah menjadi alasan untuk berhenti peduli.

Keuchik Maskur menyampaikan bahwa aksi kemanusiaan ini lahir dari tradisi masyarakat Aceh yang menjunjung tinggi persaudaraan dan kebersamaan. Menurutnya, musibah adalah ujian bersama, dan kepedulian adalah cara paling manusiawi untuk menghadapinya. “Hari ini kita bantu saudara kita, mungkin esok bisa jadi kita yang dibantu orang lain” ujar Keuchik Maskur.

Harapan pun disematkan pada bantuan yang dikirimkan, meski jumlahnya tidak seberapa, namun ketulusan di baliknya diyakini mampu menguatkan semangat para korban banjir bandang di Aceh Tamiang.

Apa yang dilakukan masyarakat Blang Awe merupakan aksi kemanusiaan yang tidak dapat diukur dari kelimpahan harta, melainkan dari kelapangan hati. Di tengah keterbatasan dan cobaan berat, kepedulian sosial justru tumbuh dan menyala, menjadi kekuatan utama untuk bertahan dan bangkit bersama.

Gampong Blang Awe mengajarkan kita, bahwa bencana memang bisa meruntuhkan bangunan, tetapi tidak pernah mampu merobohkan nilai kemanusiaan. Dari desa kecil di Pidie Jaya, pesan besar tentang solidaritas dan empati dikirimkan, bahwa di saat paling sulit sekalipun, manusia tetap bisa menjadi cahaya bagi sesamanya. (**)