Saya Tak Pernah Meminta, Kini Saya Terpaksa Bersuara: Jeritan Bang Nas dari Gubuk Tua di Pidie Jaya
LIPUTANGAMPONGNEWS.ID - Hujan adalah waktu yang paling ditakuti Nasruddin Bin Alibasyah (52). Setiap tetes air yang jatuh dari langit perlahan merembes melalui celah atap gubuk kayu yang telah lapuk dimakan usia. Tiang-tiang penyangga mulai rapuh, dinding papan menghitam, sementara lantai kayu sederhana itu menjadi saksi bisu seorang lelaki yang menjalani hari-harinya seorang diri di Gampong Meunasah Paya, Kecamatan Trienggadeng, Kabupaten Pidie Jaya.
Ironisnya, di Aceh program bantuan rumah layak huni hampir tak pernah absen setiap tahun. Miliaran rupiah anggaran digelontorkan oleh pemerintah pusat, Pemerintah Aceh hingga pemerintah kabupaten/kota untuk membantu fakir miskin dan kaum dhuafa memiliki tempat tinggal yang lebih layak. Namun, di balik angka-angka itu masih ada cerita yang tercecer. Masih ada mereka yang hidup dalam rumah yang nyaris roboh, seolah tak pernah masuk dalam daftar penerima manfaat.
Bang Nas adalah satu di antaranya. Dalam video berdurasi sekitar lima menit yang belakangan beredar luas di media sosial, ia menceritakan kisah hidupnya tanpa nada menyalahkan siapa pun. Rumahnya roboh saat gempa besar melanda Pidie Jaya. Ketika banyak korban lain memperoleh rumah bantuan, ia hanya mendapatkan sebuah gubuk papan yang dibangun oleh Dinas Sosial kala itu sebagai tempat berteduh sementara. Bertahun-tahun berlalu, tempat tinggal sementara itu justru menjadi rumah permanennya, meski kondisinya kini semakin renta.
Kesedihan Bang Nas tak hanya soal rumah. Tubuhnya pun tak lagi sekuat dulu. Luka menahun di kaki kirinya yang diduga akibat komplikasi diabetes terus membesar hingga menjalar ke telapak kaki. Rasa sakit membuatnya sulit berjalan, apalagi bekerja. Lelaki yang hidup sebatang kara itu kini hanya menggantungkan hidup dari belas kasih warga sekitar yang sesekali datang membawa makanan atau sekadar menyapanya.

Selama ini Bang Nas memilih diam. Ia tak pernah mendatangi kantor pemerintahan, tak pernah mengajukan tuntutan, apalagi mengeluh. Namun keadaan memaksanya mengesampingkan rasa sungkan. Dengan suara lirih dalam video tersebut, ia menyampaikan harapan yang begitu sederhana. "Saya tidak pernah mengeluh dan meminta bantuan kepada pemerintah. Tapi sekarang saya sudah tidak bisa mencari nafkah lagi. Tolong saya, Pak Bupati, bantu saya mendapatkan rumah yang layak," pintanya.
Jeritan Bang Nas bukan sekadar kisah tentang sebuah rumah yang bocor atau dinding yang lapuk. Ini adalah cermin bahwa di balik banyaknya program bantuan, masih ada warga yang tercecer dari perhatian. Bantuan sosial sejatinya tidak hanya diukur dari besarnya anggaran yang disalurkan, tetapi dari sejauh mana mampu menjangkau mereka yang paling membutuhkan. Ketika seorang korban gempa yang sakit-sakitan, hidup sendiri, dan tinggal di gubuk reyot belum juga memperoleh rumah layak, pertanyaan tentang ketepatan sasaran menjadi sulit dihindari.
Kini, harapan Bang Nas hanya tersisa pada kepedulian. Ia tidak meminta rumah mewah, tidak pula menginginkan kemewahan hidup. Yang ia dambakan hanyalah sebuah tempat berteduh yang aman untuk menghabiskan sisa usianya dengan tenang. Barangkali, di tengah begitu banyaknya program pembangunan, suara lirih dari sebuah gubuk tua di Meunasah Paya itu mampu mengetuk hati para pemangku kebijakan. Sebab bagi Bang Nas, rumah bukan sekadar bangunan, melainkan harapan terakhir agar ia tetap hidup dengan martabat sebagai seorang manusia. (TS)







