25 September 2026
Kisah

SABAR, Tapi Sampai Kapan?

LIPUTANGAMPONGNEWS.ID - SABAR....Dulu, lima huruf itu bukan sekadar kata. Ia adalah nama yang melekat pada sebuah pasangan politik yang datang membawa harapan. SABAR menjadi identitas ketika dua sosok berdiri berdampingan, menyapa rakyat, menebar senyum, dan meminta kepercayaan untuk memimpin Pidie Jaya.

Kini, setelah kemenangan berada di tangan, kata SABAR seperti menemukan makna lain.

Bukan lagi sekadar nama pasangan.
Melainkan pesan yang diam-diam mulai terdengar dari rakyat: “Sabar menunggu kapan Bang SABAR kembali bersama.”

Di sejumlah forum kabupaten, pemandangan kebersamaan bupati dan wakil bupati yang dulu begitu mudah ditemukan kini mulai menjadi sesuatu yang dirindukan. Ketika salah satu hadir, pertanyaan tentang yang lain kadang muncul. Ketika sebuah kegiatan berlangsung, mata publik tak jarang mencari: “Ada Bang Wakil?” atau “Bupati ikut hadir?”

Pertanyaan-pertanyaan kecil itu mungkin terdengar sepele. Tetapi dalam politik, hal-hal kecil yang berulang sering kali justru menjadi tanda bahwa publik sedang memperhatikan sesuatu.

Rakyat memang tidak berada di ruang rapat internal. Mereka tidak tahu apa yang dibicarakan ketika pintu kantor ditutup. Mereka juga tidak berada di meja tempat keputusan-keputusan pemerintahan dirumuskan.

Mereka hanya melihat apa yang tampak.
Dan yang tampak itulah yang kemudian menjadi cerita.

Dulu, SABAR hadir sebagai satu paket. Satu panggung. Satu kendaraan politik. Satu janji kepada rakyat. Kini, ketika jarak kebersamaan mulai terasa dalam berbagai forum, publik pun mulai bertanya-tanya, tentu dengan caranya sendiri.

Bukan untuk mengorek urusan pribadi.
Bukan pula untuk mencari siapa yang salah.

Rakyat hanya ingin memastikan bahwa mandat yang mereka berikan melalui bilik suara tidak ikut terbelah oleh perbedaan yang mungkin terjadi di antara dua orang yang mereka pilih.

Sebab jabatan bupati dan wakil bupati bukanlah panggung untuk mempertontonkan siapa paling kuat. Keduanya memang memiliki kewenangan dan posisi berbeda, tetapi mandat politiknya berangkat dari pintu yang sama: kepercayaan rakyat.

Maka, sedikit menggoda rasanya jika hari ini rakyat kembali bertanya:

“Bang SABAR, masih ingatkah dengan nama yang dulu diperjuangkan bersama?”
Atau jangan-jangan SABAR kini hanya tinggal nama di spanduk lama?

Tentu tidak ada yang berharap demikian.
Pidie Jaya tidak membutuhkan pasangan pemimpin yang setiap saat harus tampak bergandengan tangan. Itu terlalu romantis untuk sebuah pemerintahan.

Tetapi Pidie Jaya membutuhkan sesuatu yang jauh lebih penting, yaitu kesatuan arah dalam bekerja.

Kalau sesekali berbeda pandangan, itu manusiawi. Kalau berbeda cara melihat persoalan, itu biasa. Bahkan perbedaan pendapat bisa menjadi energi untuk menghasilkan keputusan yang lebih baik.
Yang menjadi persoalan adalah ketika perbedaan itu mulai terbaca sebagai jarak di mata publik.

Sebab rakyat punya cara sederhana membaca kekuasaan: siapa yang hadir, siapa yang tidak hadir, siapa yang duduk bersama, dan siapa yang semakin jarang terlihat berdampingan..

Di sinilah SABAR menjadi menarik.
Sebuah nama yang dulu dirancang untuk memenangkan hati rakyat, kini justru seperti sedang diuji oleh waktu.
Apakah SABAR masih menjadi satu kesatuan?

Atau rakyat harus benar-benar bersabar menunggu mereka kembali duduk dalam satu meja, satu forum, satu kepentingan?
Tak perlu ada pidato dan seremonial.

Tak perlu pula deklarasi ulang.
Barangkali cukup satu momentum: bupati dan wakil bupati hadir bersama dalam sebuah forum kabupaten, duduk berdampingan, berbicara tentang Pidie Jaya, lalu tersenyum seperti dulu.
Sederhana.

Tetapi mungkin bagi rakyat, maknanya besar.

Sebab ada kalanya yang dirindukan rakyat bukan proyek baru, bukan baliho baru, bukan slogan baru.

Mereka hanya ingin melihat dua orang yang dulu datang bersama untuk meminta suara mereka, kembali terlihat bersama ketika menjalankan amanah mereka.
Jadi, wahai Bang SABAR...

Kalau memang harus bersabar, biarlah rakyat bersabar menunggu kabar baik.
Tetapi jangan terlalu lama.

Sebab rakyat sudah mulai bertanya dengan nada bercanda, namun mungkin menyimpan harapan. 

“SABAR itu nama pasangan dulu, atau memang sekarang rakyat yang harus sabar menunggu keduanya kembali bersama?” (FD)