18 Juli 2026
News

Romantis di Layar, Kejam di Balik Layar: Mafia Love Scamming Mengintai Anda

Foto : Ilustrasi | LIPUTAN GAMPONG NEWS

LIPUTANGAMPONGNEWS.IDSemuanya hampir selalu dimulai dengan cara yang sama. Sebuah pesan singkat dari nomor tak dikenal. Sebuah pertemanan di Facebook, Instagram, Telegram, WhatsApp, atau aplikasi kencan. Foto profilnya menawan, senyumnya hangat, tutur katanya lembut. Ia seolah hadir sebagai sosok yang selama ini dicari, penuh perhatian, romantis, penyabar, dan selalu tersedia kapan pun dibutuhkan.

Hari demi hari, percakapan semakin intens. Sapaan "selamat pagi", ucapan "selamat tidur", perhatian saat kita sakit, hingga rayuan yang membuat hati perlahan luluh. Pelaku sengaja membangun ikatan emosional agar korban merasa dicintai. Padahal, di balik layar, semua itu hanyalah naskah yang dimainkan oleh sindikat profesional. Foto profil sering kali dicuri dari media sosial orang lain, menggunakan identitas palsu, bahkan tidak sedikit yang memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk membuat wajah, suara, maupun panggilan video tampak meyakinkan.

Ketika korban sudah percaya sepenuhnya, topeng cinta mulai berganti menjadi perangkap uang. Ada yang mengaku ingin mengirim hadiah dari luar negeri tetapi meminta biaya bea cukai. Ada yang berpura-pura mengalami kecelakaan, sakit, atau kesulitan bisnis. Modus yang kini paling banyak ditemukan adalah mengajak korban berinvestasi di platform kripto atau perdagangan daring palsu dengan janji keuntungan besar. Tahapan inilah yang dikenal sebagai pig butchering, yaitu "menggemukkan" korban dengan kasih sayang palsu sebelum menguras seluruh hartanya.

Indonesia pun tidak luput dari kejahatan ini. Pada 2026, Direktorat Reserse Siber Polda Jawa Tengah membongkar sindikat internasional pig butchering yang beroperasi di Solo dan Sukoharjo. Polisi menangkap puluhan tersangka, termasuk warga negara asing. Dari hasil penyelidikan, sindikat tersebut diduga meraup sekitar Rp41 miliar hanya dalam waktu sekitar sepuluh bulan. Para pelaku membagi peran secara rapi, mulai dari pencari korban, operator percakapan, hingga model yang melakukan panggilan video agar korban yakin sedang berbicara dengan pasangan yang nyata.

Kasus tersebut memperlihatkan bahwa cinta palsu kini telah menjadi industri kejahatan yang terorganisasi. Bahkan sejumlah laporan media mengungkap adanya figur publik yang diduga dilibatkan sebagai "model" untuk memperkuat kepercayaan korban dalam panggilan video. Fakta ini menunjukkan bahwa yang dihadapi masyarakat bukan lagi penipu perorangan, melainkan jaringan yang bekerja secara profesional dengan target lintas negara.

Yang paling menyedihkan, korban bukan hanya kehilangan uang. Mereka kehilangan kepercayaan, harga diri, bahkan mengalami trauma berkepanjangan. Banyak korban memilih diam karena malu mengakui bahwa dirinya tertipu oleh seseorang yang selama berbulan-bulan dianggap sebagai pasangan hidup.

Karena itu, masyarakat perlu memahami satu hal sederhana: cinta sejati tidak pernah meminta transfer uang kepada orang yang baru dikenal di dunia maya. Jika seseorang terlalu cepat mengungkapkan cinta, enggan bertemu langsung, selalu memiliki alasan untuk meminta bantuan finansial, atau mengajak berinvestasi, berhentilah sejenak dan lakukan verifikasi. Jangan kirim uang, data pribadi, foto identitas, kode OTP, maupun informasi rekening kepada siapa pun yang hanya dikenal melalui layar ponsel.

Di era digital, wajah cantik atau tampan di foto profil bukan lagi jaminan kejujuran. Kata-kata romantis bisa dipelajari, perhatian bisa direkayasa, bahkan panggilan video pun dapat menjadi bagian dari sandiwara. Yang paling berharga bukanlah rayuan yang membuat hati berbunga, melainkan kewaspadaan yang mampu menjaga masa depan dan tabungan keluarga. (**)