26 Januari 2026
Opini

Seremonial Tiada Henti, Pidie Jaya Jalan di Tempat

Oleh: Fakhrurazi, M,Si
Warga Pidie Jaya

OPINI - Pidie Jaya adalah kabupaten muda dengan segudang potensi. Visi besar "Pidie Jaya Makmur dan Sejahtera" seharusnya menjadi panggilan untuk kerja keras, kerja nyata, dan kerja cerdas dari para pemimpin daerah. Namun sayangnya, yang terlihat justru sebaliknya panggung-panggung seremoni yang tak henti-henti, seolah lebih penting dari substansi pembangunan itu sendiri.

Beberapa bulan terakhir, agenda media sosial dan pemberitaan lokal dipenuhi dengan kegiatan seremoni Bupati H. Sibral Malasyi, M.A., S.Sos., M.E. dari pemotongan pita, peluncuran program, hingga seremoni seremoni kecil yang nyaris tanpa dampak signifikan terhadap pelayanan publik maupun peningkatan kualitas hidup masyarakat.

Padahal, persoalan dasar di Pidie Jaya masih menumpuk. Infrastruktur jalan banyak yang rusak, sektor pertanian dan perikanan belum mampu menjamin kesejahteraan petani dan nelayan, pelayanan kesehatan dan pendidikan masih perlu pembenahan serius. Bahkan isu-isu pengangguran dan stunting masih menjadi tantangan nyata yang membutuhkan langkah strategis, bukan sekadar seremoni.

Tentu, seremoni bukanlah hal yang salah. Ia memiliki nilai simbolik dan komunikasi politik yang penting. Tapi ketika seremoni menjadi wajah utama pemerintahan, sementara realisasi program-program fundamental tersendat atau tak jelas arah dan capaiannya, maka yang terjadi adalah pemborosan energi dan hilangnya kepercayaan publik.

Warga menanti bukan acara seremonial, tapi solusi nyata atas persoalan sehari-hari. Pidie Jaya tidak butuh panggung megah, tapi butuh keberanian dalam membuat kebijakan yang menyentuh akar masalah. Pemimpin ditunggu untuk turun ke lapangan, mendengar jeritan rakyat kecil, dan membenahi sistem pelayanan yang masih kerap menyulitkan masyarakat.

Saatnya refleksi. Sudahkah pembangunan di Pidie Jaya benar-benar berpihak pada rakyat? Atau hanya berhenti di panggung seremoni yang mewah namun kosong makna?

Pidie Jaya butuh arah baru. Kerja nyata harus lebih dikedepankan daripada sekadar kamera dan seremoni. Jangan sampai waktu habis di bawah lampu sorot panggung, sementara daerah ini tetap berjalan di tempat.

Pidie Jaya tak perlu panggung pencitraan tanpa aksi. Seremoni tiada henti tidak akan membawa kabupaten ini maju. Rakyat butuh karya nyata, bukan hanya foto Bupati menyapa kamera.

Kerja nyata bukan sekadar tagline kampanye. Ini soal keberpihakan bukan pada lampu sorot, melainkan pada kesejahteraan masyarakat. Saatnya pemimpin menuntaskan janji dengan kebijakan berbasis bukti, bukan hanya tepuk tangan di atas panggung.