18 Juni 2026
Kisah

Menanti Kepedulian yang Tak Kunjung Datang, Anak Eks Kombatan itu Kini Jadi ODGJ

Foto : Ryan Syukri | LIPUTAN GAMPONG NEWS

LIPUTANGAMPONGNEWS.IDDi sebuah rumah tua yang mulai lapuk di Gampong Leubu Mesjid, Kecamatan Makmur, Kabupaten Bireuen, waktu seakan berjalan lebih lambat. Di sana, seorang pria bernama Ryan Syukri (34) menghabiskan hari-harinya dalam kesunyian yang sulit dipahami banyak orang. Tatapannya sering kosong menembus dinding rumah yang mulai renta, sementara pikirannya berkelana dalam dunia yang hanya ia sendiri yang mengerti.

Ryan bukan sekadar penyandang gangguan jiwa. Ia adalah anak dari seorang syuhada Aceh. Ayahnya, almarhum Amiruddin atau yang dikenal sebagai Tgk. Naga, gugur dalam konflik bersenjata Aceh saat Ryan masih berusia sekitar dua tahun. Sang ayah meninggalkan jejak perjuangan yang dikenang banyak orang, namun bagi Ryan, yang tersisa hanyalah kenangan yang tak pernah sempat ia rasakan secara utuh: sosok ayah yang hadir dalam cerita, tetapi tidak dalam pelukan.

Lebih dari sebelas tahun terakhir, Ryan berjuang melawan gangguan kejiwaan yang perlahan menggerus kehidupannya. Keluarga telah berulang kali membawanya berobat ke rumah sakit jiwa. Namun, keterbatasan biaya dan minimnya pendampingan membuat pengobatan yang dijalani belum membuahkan hasil yang diharapkan. Ia dirawat, dipulangkan, lalu kembali dirawat. Sebuah lingkaran panjang yang melelahkan bagi keluarga yang terus berusaha bertahan.

Dulu, masih ada sosok neneknya, Ainun Mardhiah (76), yang dengan penuh kasih merawat Ryan di rumah sederhana mereka. Di usia senjanya, sang nenek menjadi tempat Ryan bersandar. Namun takdir kembali menghadirkan kehilangan. Ainun telah berpulang, meninggalkan kesedihan yang semakin dalam. Sementara itu, ibu kandung Ryan harus bekerja di perantauan demi memenuhi kebutuhan hidup keluarga yang serba terbatas.

Donaparu, sepupu yang selama ini menjadi tempat Ryan berbagi cerita, mengaku sering mendengar keluh kesah yang sama berulang kali. Meski pembicaraan Ryan kerap melompat dari satu topik ke topik lain, ada satu hal yang selalu muncul di akhir percakapan: sepeda motor. Keinginan sederhana itu bahkan tergambar di dinding rumah dan meunasah sekitar tempat tinggalnya. Ia kerap melukis bentuk motor Supra dan berbagai jenis sepeda motor lainnya. Seolah-olah, melalui gambar-gambar itu, Ryan sedang menyampaikan kerinduan yang tak pernah selesai: keinginan memiliki sebuah sepeda motor seperti pemuda lain seusianya.

"Berkali-kali dia bicara tentang motor. Kadang pembahasannya ke mana-mana, tetapi ujungnya tetap motor. Itu yang selalu dia sampaikan," dengan suara pelan. Bagi keluarga, keinginan itu mungkin tampak sederhana. Namun di baliknya tersimpan kebutuhan yang lebih besar, perhatian, kasih sayang, dan harapan untuk hidup yang lebih layak.
Kisah Ryan menghadirkan ironi yang menyentuh nurani. Di tengah Aceh yang telah menikmati kedamaian dan pembangunan pascakonflik, masih ada anak seorang pejuang yang hidup dalam keterbatasan dan berjuang melawan sakit yang menggerogoti jiwanya. Nama ayahnya mungkin pernah dikenal di masa perjuangan, tetapi kehidupan Ryan hari ini berjalan dalam kesunyian, jauh dari sorotan dan perhatian.

Kini, keluarga hanya berharap ada uluran tangan dari berbagai pihak. Mereka berharap pemerintah, para mantan kombatan yang kini berada dalam posisi strategis, serta para dermawan dapat membantu menghadirkan pengobatan yang lebih serius dan berkelanjutan bagi Ryan. Sebab yang dibutuhkan Ryan bukan sekadar bantuan sesaat, melainkan kesempatan untuk mendapatkan perawatan yang layak, perhatian yang tulus, dan harapan baru untuk menjalani hidup dengan lebih baik.

Di balik hiruk-pikuk politik dan pembangunan, kisah Ryan Syukri menjadi pengingat bahwa kemanusiaan tidak boleh berhenti pada seremoni dan kenangan masa lalu. Sebab di sebuah rumah sederhana di Leubu Mesjid, seorang anak syuhada masih menunggu fajar itu datang, fajar yang membawa perhatian, kepedulian, dan harapan bagi masa depannya yang selama ini tenggelam dalam sunyi. (DP)