BANJIR PIDIE JAYA
Lumpur Banjir Masih Mengepung Pidie Jaya, Pembersihan Mesjid dan Meunasah Menanti Uluran Tangan Mahasiswa dan Relawan
LIPUTANGAMPONGNEWS.ID -Bencana banjir yang menerjang Kabupaten Pidie Jaya lima hari silam belum benar-benar berlalu. Bukan hanya genangan air yang surut, namun sisa lumpur tebal kini menjadi “warisan” bencana yang melumpuhkan aktivitas warga, terutama di rumah-rumah ibadah. Hingga Minggu (30/11), lumpur masih menempel di jalan, halaman masjid, hingga ruang salat di sejumlah sejumlah masjid diberbagai kecamatan.
Di Kecamatan Meureudu, kondisi memprihatinkan terlihat di Gampong Mesjid Tuha, Meunasah Cut, dan Mesjid Kuta Batei. Halaman mesjid berubah menjadi hamparan lumpur kecokelatan, mempersulit jamaah untuk beribadah dengan nyaman. Untuk membersihkan warga berharap uluran tangan mahasiswa, relawan, ormas, okp dan organisasi keagamaan dengan memfasilitasi tenaga dan peralatan untuk membersihkan halaman dan lantai mesjid.
Keadaan tak jauh berbeda di Kecamatan Meurah Dua. Masjid Gampong Blang Cut, Meunasah Raya, serta sejumlah tempat ibadah lain terendam lumpur pekat. Aroma tak sedap mulai tercium dari sisa genangan yang mengendap, memicu kekhawatiran akan penyakit dan wabah jika tidak segera dibersihkan secara menyeluruh.
Sementara di Kecamatan Ulim, rumah-rumah ibadah sepanjang jalan Lueung Bimba hingga Keude Ulim pun belum luput dari dampak bencana. Lumpur mengeras di halaman dan pintu masjid, membuat sebagian tempat ibadah belum bisa digunakan secara normal. Aktivitas keagamaan warga pun terpaksa dilakukan secara terbatas.
Muhammad Ikbal, seorang warga Meureudu, mengungkapkan bahwa pemerintah daerah bersama masyarakat kewalahan menghadapi fase pasca-banjir ini. “Tenaga terbatas, alat juga tidak memadai. Membersihkan lumpur ini tidak semudah menyapu debu,” katanya. Ia menyebut pembersihan berjalan lambat karena minimnya peralatan berat dan mesin semprot berkekuatan tinggi.
Menurutnya, peralatan seperti high pressure washer, water jet cleaner, skrop, hingga cangkul sangat dibutuhkan untuk mempercepat pembersihan. Tanpa bantuan alat, warga hanya bisa membersihkan secara manual yang tentu memakan waktu dan tenaga besar, sementara rutinitas ibadah harus segera kembali normal.
Harapan kini disandarkan pada kepedulian publik. Fauzi, warga Meurah Dua, meminta bantuan relawan, khususnya dari kalangan mahasiswa di seluruh Aceh. “Kami mohon uluran tangan. Jika ada program KKN, kirimkan ke Pidie Jaya untuk membersihkan masjid,” ujarnya. Selain relawan, warga juga masih kekurangan air bersih untuk proses pembersihan. (**)









