11 Februari 2026
Gampong

Keuchik Teupin Peuraho Salurkan Beasiswa Rp1 Juta per Murid Baru SDN 11 Meureudu

Foto : Istimewa | LIPUTAN GAMPONG NEWS

LIPUTANGAMPONGNEWS.IDPemerintah Gampong Teupin Peuraho, Kecamatan Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya, kembali menunjukkan komitmennya terhadap dunia pendidikan dengan menyalurkan beasiswa bagi murid baru SD Negeri 11 Meureudu yang berlokasi di gampong setempat.

Penyerahan bantuan dilakukan secara langsung oleh Keuchik Teupin Peuraho, Mulyadi, SE, didampingi Komite Sekolah, Tgk Fadli Sulaiman, pada Selasa (10/2/2026) sekitar pukul 11.00 WIB, di ruang kelas I SDN 11 Meureudu.

Beasiswa yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Gampong (APBG) Tahun 2025 tersebut disalurkan kepada murid baru dengan nilai Rp1.000.000 per siswa.Keuchik Teupin Peuraho, Mulyadi, mengatakan program beasiswa ini merupakan bentuk dukungan nyata pemerintah gampong terhadap sektor pendidikan, sekaligus wujud pemanfaatan dana desa yang tepat sasaran.

“Beasiswa ini diambil dari dana APBG dan diberikan setiap tahunnya. Kami berharap bantuan ini dapat dimanfaatkan dengan baik untuk menunjang kebutuhan pendidikan anak-anak,” ujar Mulyadi.

Ia menjelaskan, program beasiswa pendidikan tersebut telah berjalan selama dua tahun. Pada tahun sebelumnya, Pemerintah Gampong Teupin Peuraho telah menyalurkan beasiswa kepada 14 murid baru.

Untuk tahun 2024, anggaran yang dialokasikan mencapai Rp14 juta, sementara pada tahun ini sebesar Rp6 juta, menyesuaikan dengan jumlah penerima.

Menurut Mulyadi, alokasi beasiswa pendidikan akan terus diupayakan setiap tahun bagi warga yang berhak menerima. Bahkan, ke depan pihaknya berencana memperluas sasaran penerima beasiswa.

“InsyaAllah tahun depan kita juga akan menyasar murid-murid berprestasi yang bersekolah di SDN 11 Meureudu, bila anggaran memungkinkan,” katanya.

Ia berharap, adanya bantuan beasiswa ini dapat menumbuhkan semangat belajar anak-anak serta meringankan beban orang tua, khususnya saat awal masuk sekolah.

“Saya tidak ingin ada anak yang putus sekolah hanya karena tidak ada biaya. Saya pernah merasakan sendiri sulitnya menyekolahkan anak saat kondisi ekonomi terbatas, dan itu tidak ingin saya lihat dialami oleh warga kita sekarang,” tutup Mulyadi. (**)