25 Januari 2026
Daerah
BanjirAceh

Di Saat Bank Lain Longgarkan Kredit, Bank Aceh Dituding Tutup Mata pada ASN Terdampak

LIPUTANGAMPONGNEWS.ID -Sejumlah Aparatur Sipil Negara (ASN) yang terdampak bencana di Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, mengeluhkan sikap Bank Aceh Syariah yang dinilai abai terhadap kondisi nasabahnya sendiri. Di tengah tekanan ekonomi pasca bencana, bank milik daerah itu justru belum menunjukkan keberpihakan melalui kebijakan relaksasi kredit, padahal para ASN berada dalam kondisi finansial yang sangat rentan.

Fakhrurrazi, salah seorang ASN Pidie Jaya, mengatakan bahwa sudah sepantasnya Bank Aceh Syariah memberikan stimulus kepada debitur, khususnya ASN yang terdampak langsung bencana. Menurutnya, kebutuhan dana mendesak seperti pembersihan rumah, perbaikan aset, dan pemulihan aktivitas keluarga tidak bisa ditunda, sementara beban cicilan kredit tetap berjalan tanpa kompromi.

“ASN terdampak sangat membutuhkan ruang napas finansial. Relaksasi kredit bukan kemewahan, melainkan kebutuhan rasional dalam situasi darurat,” sebut Fakhrurrazi kepada awak media, Sabtu (24/1). Ia menilai kebijakan bank yang kaku di tengah krisis justru berpotensi memperdalam tekanan ekonomi rumah tangga korban bencana.

Keluhan serupa disampaikan ASN Disperindagkop Pidie Jaya, Teuku Yusmadi Arkasih, SE. Ia menekankan bahwa stimulus bagi ASN bukanlah permintaan berlebihan, mengingat kontribusi pembiayaan ASN di Bank Aceh Syariah mencapai lebih dari 70 persen dari total portofolio pembiayaan bank tersebut. “Ironis jika kelompok nasabah terbesar justru tidak mendapat perlindungan saat krisis,” tegasnya.

Menurut Yusmadi, hampir seluruh lembaga keuangan dan perbankan lainnya yang beroperasi di wilayah terdampak bencana telah memberlakukan kebijakan relaksasi kredit bagi korban bencana. Namun, Bank Aceh Syariah justru tampak menjadi pengecualian. Sikap ini dinilai kontra produktif dengan semangat perbankan syariah yang seharusnya menjunjung prinsip keadilan, kemaslahatan, dan empati sosial.

Para ASN berharap Bank Aceh Syariah segera mengevaluasi kebijakannya dan tidak sekadar melihat nasabah sebagai angka neraca. Tanpa relaksasi, risiko kredit bermasalah justru dapat meningkat, sementara kepercayaan publik terhadap bank daerah terus tergerus. Dalam konteks ekonomi daerah, keberpihakan bank pada masa krisis bukan hanya soal empati, melainkan strategi menjaga stabilitas dan keberlanjutan ekonomi lokal. (**)