Akibat Debu Jalanan, Warga Meureudu Kini Terancam Penyakit
LIPUTANGAMPONGNEWS.ID -Derita warga Gampong Mesjid Tuha, Dusun Lhoknga, Kecamatan Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, seolah belum menemukan ujungnya. Setelah sebelumnya harus berjibaku dengan banjir lumpur yang merendam kawasan mereka, kini masyarakat kembali dihadapkan pada persoalan baru yang tak kalah menyiksa, debu tebal dari jalanan yang setiap hari beterbangan dan masuk ke rumah-rumah warga.
Kondisi jalan yang rusak dan dipenuhi sisa lumpur kering membuat setiap kendaraan yang melintas menimbulkan kepulan debu pekat. Debu tersebut bukan hanya mengotori lingkungan, tetapi juga mengancam kesehatan masyarakat. Anak-anak yang bermain di sekitar rumah, orang dewasa yang beraktivitas, hingga para lansia yang rentan penyakit pernapasan terpaksa menghirup udara kotor setiap hari.
Ironisnya, hingga kini belum terlihat langkah nyata dan serius dari pihak terkait untuk mengatasi persoalan tersebut. Warga mengaku sudah berulang kali menyampaikan keluhan, namun kondisi di lapangan masih tetap sama. Jalan yang seharusnya segera ditangani pasca bencana justru dibiarkan dalam keadaan memprihatinkan.
“Dulu kami harus menghadapi banjir lumpur, sekarang setiap hari kami bermandi debu. Anak-anak sering batuk, orang tua juga banyak yang sesak napas. Siapa yang bertanggung jawab atas penderitaan kami ini?” ujar Aroel, salah satu warga Lhoknga dengan nada kesal.
Situasi ini memunculkan pertanyaan besar tentang kesigapan pemerintah dalam menangani dampak pasca bencana. Warga menilai, penanganan yang lambat justru memperpanjang penderitaan masyarakat. Padahal, persoalan debu jalanan ini bukan hanya soal kenyamanan, tetapi sudah menyentuh aspek kesehatan publik, sebut Aroel.
Kini warga Lhoknga hanya berharap ada tindakan cepat dan nyata dari pemerintah daerah maupun instansi terkait. Jika tidak segera ditangani, debu yang setiap hari beterbangan itu bukan hanya sekadar gangguan lingkungan, melainkan ancaman serius bagi kesehatan generasi yang hidup di kawasan tersebut. Suara warga pun semakin lantang: sampai kapan penderitaan ini dibiarkan? Siapa yang benar-benar bertanggung jawab? (**)









