Diduga Bungkam, Direktur RSU TAS: Saya Tidak Menolak Diwawancarai Wartawan TV
LIPUTANGAMPONGNEWS.ID -Direktur RSU Tgk. Abdullah Syafie (TAS) Beureunun, dr. Kamaruzzaman, menjadi sorotan setelah muncul dugaan bahwa dirinya menghindar saat hendak diwawancarai oleh salah seorang wartawan televisi yang bertugas di wilayah Pidie dan Pidie Jaya. Dugaan itu mencuat ketika pewarta merasa tidak mendapat akses penuh untuk melakukan wawancara menggunakan peralatan liputan standar televisi, Selasa (25/11).
Hasbi, wartawan televisi tersebut, menjelaskan bahwa niatnya melakukan wawancara adalah untuk menggali informasi mengenai pengelolaan limbah medis di RSU TAS, khususnya terkait penerapan Standar Operasional Prosedur (SOP) sesuai Permenkes. Ia mengaku heran ketika diminta tidak membawa kamera maupun perangkat elektronik lainnya ke ruang direktur, padahal perangkat tersebut merupakan kebutuhan dasar untuk liputan televisi.
Namun, dr. Kamaruzzaman dengan tegas membantah anggapan bahwa dirinya menghindar ataupun menolak diwawancarai. Ia menyatakan bahwa tidak ada larangan untuk wawancara, melainkan hanya prosedur awal agar komunikasi awal dapat dilakukan secara lebih terstruktur sebelum proses pengambilan gambar dilakukan. “Saya tidak menolak. Saya hanya minta wartawan masuk dulu tanpa kamera agar kita bisa menyusun poin wawancara. Ini penting untuk media televisi agar penyampaian informasi tetap akurat,” ujarnya.
Menurutnya, langkah tersebut merupakan bagian dari etika komunikasi formal yang sering diterapkan di berbagai instansi ketika menghadapi liputan televisi. Ia menilai proses penyusunan daftar pertanyaan atau skrip awal justru bertujuan memudahkan kedua belah pihak agar wawancara dapat berjalan lebih efektif dan sesuai kebutuhan informasi publik.
dr. Kamaruzzaman juga menegaskan bahwa pihak RSU TAS selalu terbuka terhadap media dan menghargai kerja jurnalistik. Ia berharap kejadian ini tidak menimbulkan kesalahpahaman yang dapat mengganggu hubungan baik antara fasilitas pelayanan kesehatan dan insan pers, yang selama ini saling mendukung dalam penyebaran informasi publik.
Sementara itu, pihak media berharap ke depan komunikasi dapat berlangsung lebih lancar agar proses peliputan berjalan sebagaimana mestinya. Pemberitaan mengenai pengelolaan limbah medis adalah bagian penting untuk mengedukasi masyarakat sekaligus memastikan pelayanan kesehatan tetap memenuhi standar yang berlaku. (**)






