Dampak Psikologis Terhadap Anak-Anak Pasca Bencana di Aceh Tamiang
Oleh : Nurhafiza - Mahasiswi Psikologi, UIN Ar-Raniry, Darussalam - Banda Aceh
OPINI - Coba bayangkan langit malam yang gelap, hujan turun tanpa henti, suara air bah terdengar semakin keras, perlahan air mulai memasuki halaman rumah, merendam lantai, lalu terus naik sedikit demi sedikit melampaui orang dewasa. Dalam keadaan seperti itu, tidak ada yang memikirkan kenyamanan atau harta benda, yang ada hanya rasa cemas dan satu pertanyaan yang terus berputar di kepala: apakah kami akan selamat malam ini?
Bagi masyarakat Aceh Tamiang, pengalaman seperti itu bukanlah cerita rekayasa, namun mereka pernah mengalaminya secara nyata. Mereka pernah menyaksikan rumah yang menjadi tempat berlindung berubah menjadi lautan air. Mereka pernah mengemasi barang-barang dalam keadaan panik, menggendong anak-anak menuju tempat yang lebih aman, dan berharap hujan segera berhenti sebelum keadaan menjadi lebih buruk.
Ketika banjir datang, perhatian kita biasanya tertuju pada rumah yang rusak, jalan yang terendam, atau kerugian ekonomi yang dialami masyarakat. Semua itu memang penting dan membutuhkan perhatian. Namun ada satu hal yang sering luput dari pembicaraan, yaitu luka psikologis yang ditinggalkan oleh bencana.
Luka itu tidak terlihat seperti dinding rumah yang retak. Tidak dapat dihitung seperti jumlah kerugian materi. Tidak pula mudah dikenali seperti genangan air yang memenuhi jalan. Luka itu tersimpan dalam pikiran dan perasaan para penyintas yang harus berusaha melanjutkan hidup setelah mengalami peristiwa yang begitu menakutkan. Banyak orang mengira bencana selesai ketika air mulai surut. Padahal bagi sebagian korban, bencana justru masih terus berlangsung dalam ingatan mereka.
Ada yang masih sulit tidur ketika hujan turun pada malam hari. Ada yang merasa cemas setiap kali mendengar kabar tentang cuaca buruk. Bahkan ada yang masih teringat jelas bagaimana paniknya mereka saat berusaha menyelamatkan keluarga dan barang-barang yang dimiliki. Mungkin dari luar mereka terlihat baik-baik saja. Mereka kembali bekerja, kembali beraktivitas, dan menjalani kehidupan seperti biasa. Namun tidak ada yang benar-benar tahu apa yang mereka rasakan ketika berada sendirian. Tidak ada yang tahu berapa kali mereka terbangun di malam hari karena mimpi buruk atau rasa khawatir yang tiba-tiba datang tanpa alasan yang jelas.
Dalam ilmu psikologi, kondisi seperti ini dikenal sebagai Post-Traumatic Stress Disorder atau PTSD, yaitu gangguan stres pasca trauma yang dapat muncul setelah seseorang mengalami atau menyaksikan peristiwa yang mengancam keselamatan dirinya. Bencana alam merupakan salah satu pengalaman yang dapat memicu kondisi tersebut.
Psikolog trauma ternama, Judith Herman menjelaskan bahwa trauma terjadi ketika seseorang mengalami peristiwa yang membuat dirinya merasa sangat takut, tidak berdaya, dan kehilangan kendali atas keadaan. Pengalaman itu kemudian tersimpan kuat dalam ingatan sehingga terus memengaruhi kehidupan seseorang meskipun peristiwa tersebut telah lama berlalu.
.jpg)
Akibatnya, korban sering mengalami kecemasan berlebihan, sulit berkonsentrasi, mudah terkejut, mengalami mimpi buruk, hingga menghindari situasi yang mengingatkan mereka pada bencana. Tubuh mereka seolah terus berada dalam kondisi siaga, seakan-akan ancaman itu masih ada di depan mata.
Selain teori trauma dari Judith Herman, teori Hierarki Kebutuhan Abraham Maslow juga dapat membantu kita memahami kondisi para penyintas bencana. Menurut Maslow, rasa aman merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia setelah kebutuhan fisiologis terpenuhi. Ketika rasa aman itu terganggu, seseorang akan kesulitan mencapai ketenangan dalam hidupnya.
Bencana secara tiba-tiba merampas rasa aman tersebut. Rumah yang sebelumnya menjadi tempat berlindung berubah menjadi tempat yang rentan. Hujan yang biasanya membawa kesejukan justru menjadi sumber ketakutan.
Musim penghujan yang dahulu dianggap biasa kini menjadi sesuatu yang menegangkan. Yang paling rentan mengalami dampak psikologis ini adalah anak-anak. Mereka belum memiliki kemampuan yang cukup untuk memahami apa yang sedang terjadi dan bagaimana mengelola emosi yang muncul setelah mengalami kejadian yang menakutkan.
Tidak sedikit anak yang menjadi lebih pendiam, mudah menangis, sulit berkonsentrasi saat belajar, atau mengalami ketakutan berlebihan setelah bencana. Bayangkan seorang anak yang menyaksikan rumahnya terendam air. Melihat orang tuanya panik. Mendengar tangisan orang-orang di sekitarnya. Lalu harus meninggalkan rumah dan tinggal sementara di tempat pengungsian yang asing. Pengalaman seperti itu mungkin hanya berlangsung beberapa hari, tetapi dampaknya dapat bertahan jauh lebih lama dalam ingatan seorang anak.
Namun trauma tidak hanya dirasakan oleh anak-anak. Banyak orang tua yang juga memikul beban psikologis yang berat. Seorang ayah mungkin terlihat tegar membersihkan lumpur yang memenuhi rumahnya. Seorang ibu mungkin tetap tersenyum di depan anak-anaknya agar mereka tidak merasa takut. Akan tetapi, di balik semua itu mereka juga manusia yang memiliki rasa cemas, sedih, dan takut.
Sering kali mereka memilih menyimpan perasaan tersebut sendirian. Mereka merasa harus kuat demi keluarga. Mereka merasa tidak punya waktu untuk memikirkan dirinya sendiri karena harus fokus membangun kembali kehidupan yang sempat porak-poranda akibat bencana.
Ironisnya, perhatian terhadap kesehatan mental pascabencana masih sering berada di belakang pemulihan fisik. Kita berbondong-bondong mengirim bantuan logistik, memperbaiki jalan yang rusak, dan membangun kembali fasilitas umum. Semua itu tentu sangat penting. Namun pemulihan tidak akan benar-benar lengkap jika trauma yang dialami masyarakat tidak ikut ditangani.
Korban bencana tidak hanya membutuhkan rumah yang layak untuk ditempati. Mereka juga membutuhkan rasa aman untuk menjalani hidup kembali. Mereka membutuhkan ruang untuk bercerita, didengarkan, dan didampingi. Mereka membutuhkan keyakinan bahwa ketakutan yang mereka rasakan adalah sesuatu yang wajar dan bukan tanda kelemahan.
Karena sejatinya trauma bukanlah bentuk ketidakmampuan seseorang dalam menghadapi masalah. Trauma adalah respons manusia yang normal terhadap pengalaman yang luar biasa berat. Tidak ada yang salah dengan merasa takut setelah mengalami bencana. Tidak ada yang salah dengan menangis ketika mengingat pengalaman yang menyakitkan.
Aceh Tamiang dikenal sebagai daerah yang memiliki semangat kebersamaan yang kuat. Nilai gotong royong yang hidup di tengah masyarakat dapat menjadi modal besar dalam membantu para penyintas bangkit kembali. Dukungan keluarga, lingkungan, tokoh masyarakat, hingga tenaga kesehatan memiliki peran penting dalam proses pemulihan psikologis korban bencana.
Pada akhirnya, kita perlu menyadari bahwa bencana tidak hanya menghancurkan bangunan. Bencana juga dapat mengguncang ketenangan jiwa seseorang. Rumah yang rusak mungkin bisa dibangun kembali. Jalan yang terputus bisa diperbaiki. Kerugian ekonomi perlahan dapat dipulihkan. Namun ada luka yang membutuhkan waktu lebih lama untuk sembuh. Luka itu adalah trauma. Dan mungkin, itulah dampak paling sunyi yang ditinggalkan oleh bencana di Aceh Tamiang.
Air memang telah surut. Lumpur mungkin telah dibersihkan. Aktivitas masyarakat perlahan kembali normal. Namun bagi sebagian penyintas, masih ada ketakutan yang datang setiap kali hujan turun. Masih ada kecemasan yang muncul ketika langit mulai mendung. Masih ada kenangan yang belum sepenuhnya hilang dari ingatan mereka.
Karena sesungguhnya, bencana tidak selalu berakhir ketika air surut. Bagi sebagian orang, bencana masih terus hidup dalam ingatan dan perasaan mereka. Oleh sebab itu, ketika berbicara tentang pemulihan pascabencana, kita tidak hanya perlu membangun kembali rumah-rumah yang rusak, tetapi juga membantu memulihkan jiwa-jiwa yang terluka.






