BUNDEL BIRU: Kunci Pintu Kemenangan SABAR, Kini Tinggal Kenangan?
"Ada perjuangan yang begitu berat sebelum kemenangan diraih, tetapi justru dilupakan setelah kekuasaan berada dalam genggaman. Di Pidie Jaya, kisah politik Sibral Malasyi dan Hasan Basri menyisakan satu pertanyaan mendasar: masihkah perjuangan bersama dihargai setelah kemenangan menjadi kenyataan?"
OPINI - Foto ini bukan sekadar dokumentasi pertemuan politik. Dibalik sebuah bundel biru yang dipegang Ketua Umum DPP PAN, Zulkifli Hasan, tersimpan cerita tentang jalan terjal pencalonan, pertaruhan dukungan politik, dan perjuangan yang mengantarkan pasangan Sibral Malasyi–Hasan Basri, atau SABAR, menuju kursi kepemimpinan Kabupaten Pidie Jaya periode 2025–2030.
Bagi sebagian orang, foto ini mungkin biasa saja. Tiga orang berdiri berdampingan, sebuah dokumen diangkat ke depan kamera, lalu gambar diabadikan. Namun, dalam politik, tidak semua foto hanya menyimpan gambar. Ada keputusan, kepentingan, negosiasi, dan momentum yang nilainya jauh melampaui selembar kertas.
Bundel biru itu menjadi simbol dari sebuah pintu politik yang terbuka ketika jalan menuju pencalonan SABAR nyaris tertutup, Pada awal perjalanan Pilkada Pidie Jaya, pasangan ini menghadapi persoalan serius dalam memenuhi persyaratan dukungan partai politik. Ketika partai-partai nasional dan lokal telah memberikan dukungan kepada pesaing, ruang gerak SABAR semakin sempit. Dalam situasi seperti itu, dukungan partai bukan sekadar formalitas administratif. Ia menjadi penentu apakah sebuah pasangan calon dapat melangkah ke gelanggang atau harus berhenti sebelum pertarungan dimulai.
Di tengah kebuntuan tersebut, dukungan PAN menjadi salah satu faktor penting yang membuka jalan bagi pasangan SABAR. Berdasarkan kronologi dan jejak digital media, keputusan politik Ketua Umum DPP PAN, Zulkifli Hasan, untuk mengalihkan dukungan dari pesaing kepada pasangan SABAR menjadi momen paling krusial kala itu, Keputusan itu berkaitan dengan langkah Hasan Basri, kader potensial PAN yang menyatakan diri maju sebagai bakal calon wakil bupati. Disinilah politik memperlihatkan wajah yang sesungguhnya: satu keputusan dapat mengubah peta persaingan, sementara satu dokumen dapat menentukan nasib sebuah pencalonan. Tanpa dukungan yang memenuhi persyaratan, semangat, popularitas, dan ambisi politik tidak cukup untuk membawa pasangan calon ke medan pertarungan.
Karena itu, jika dokumen biru dalam foto tersebut merupakan dokumen dukungan PAN, nilainya bagi perjalanan SABAR tidak semata-mata terletak pada warna atau lambang partainya. Namun nilainya terletak pada momen ketika dukungan itu hadir. Namun, cerita politik tidak berhenti ketika kemenangan diumumkan. Justru setelah kemenangan, ujian yang sesungguhnya dimulai. Diketahui publik, belakangan, Hasan Basri mengaku merasa terasing dan nyaris tidak dilibatkan dalam sejumlah pengambilan keputusan. Pengakuan tersebut, apabila benar sebagaimana disampaikan, menghadirkan ironi yang patut mendapat perhatian publik.
Seseorang yang ikut berjuang dalam satu paket politik, menghadapi risiko pencalonan, dan bersama-sama merebut kepercayaan rakyat semestinya memiliki ruang komunikasi serta koordinasi yang layak dalam pemerintahan. Tentu, jabatan wakil bupati bukan berarti setiap keputusan harus diambil berdasarkan keinginan pribadi pemegang jabatan tersebut. Pemerintahan memiliki aturan, pembagian kewenangan, dan mekanisme kerja yang harus dihormati. Namun, persoalannya berbeda ketika yang dipersoalkan adalah komunikasi, pelibatan, dan penghormatan terhadap kemitraan politik.
Sebab, kemenangan boleh berakhir di bilik suara, tetapi tanggung jawab terhadap perjuangan bersama tidak ikut berakhir ketika kekuasaan sudah diraih. Jika benar ada jarak yang semakin lebar antara bupati dan wakil bupati, publik berhak bertanya: dimana letak kemitraan yang dahulu diperjuangkan bersama?
Apakah kebersamaan hanya diperlukan ketika dukungan politik sedang dicari? Apakah kekompakan hanya penting ketika suara rakyat belum dihitung? Dan apakah perjuangan bersama kehilangan makna begitu kursi kekuasaan berhasil diduduki?
Pertanyaan-pertanyaan ini bukan vonis. Ini adalah kritik yang layak dijawab melalui keterbukaan dan sikap politik yang dewasa.
Jika ditarik ke belakang, foto ini layak disebut sebagai salah satu foto paling bernilai dalam perjalanan politik SABAR. Bukan karena tiga orang yang berdiri di dalamnya, melainkan karena makna politik yang melekat pada dokumen yang dipegang. Bayangkan jika dukungan tersebut tidak pernah datang. Bayangkan jika pintu pencalonan tetap tertutup. Bayangkan jika seluruh ikhtiar yang telah dilakukan berakhir sebelum pasangan SABAR sempat berkompetisi.
Sejarah politik Pidie Jaya mungkin akan mencatat cerita yang berbeda. Tentu, kemenangan SABAR tidak bisa disederhanakan seolah-olah hanya ditentukan oleh satu partai atau satu dokumen. Ada dukungan partai lainnya, kerja politik di lapangan, relawan, tim pemenangan, dan yang paling menentukan, pilihan rakyat Pidie Jaya. Namun, dalam konteks pemenuhan persyaratan pencalonan, dukungan yang menjadi penentu terbukanya jalan menuju kontestasi memiliki nilai strategis tersendiri. Itulah sebabnya bundel biru ini menarik untuk dibaca bukan hanya sebagai dokumen, melainkan sebagai pengingat sejarah. Dokumen boleh disimpan di lemari, tetapi jasa dan perjuangan yang menyertainya tidak semestinya dikunci bersama dokumen tersebut.
Seorang teman di sebuah warung kopi di Pidie Jaya menyampaikan kalimat yang sederhana, tetapi menohok: "Orang yang tidak menghargai proses setelah menggapai kemenangan adalah orang yang lupa diri, seolah-olah keberhasilan datang tanpa perjuangan dan pengorbanan."
Kalimat itu terasa relevan ketika dikaitkan dengan dinamika hubungan politik setelah kemenangan. Dalam politik, orang bisa berbeda pendapat. Strategi dapat berubah. Pembagian tugas dapat disesuaikan. Bahkan, hubungan politik yang semula terlihat solid pun bisa mengalami ketegangan. Namun, ada satu hal yang semestinya tidak berubah: penghargaan terhadap perjuangan yang pernah dilakukan bersama. Sebab, orang yang hanya mengingat siapa yang berada di sampingnya ketika kemenangan dirayakan, tetapi melupakan siapa yang ikut berjuang ketika jalan masih tertutup, sedang menunjukkan bahwa ingatannya lebih pendek daripada ambisinya.
Kemenangan memang memberikan kekuasaan, tetapi tidak otomatis memberikan kebijaksanaan. Dan kekuasaan yang besar tidak pernah menjadi alasan untuk mengecilkan arti orang lain. Jika Hasan Basri benar merasa tersisih dari proses pengambilan keputusan, persoalan itu semestinya tidak dibiarkan menjadi sekadar bisik-bisik politik. Perlu ada klarifikasi, komunikasi, dan penyelesaian yang mengutamakan kepentingan pemerintahan serta masyarakat Pidie Jaya.
Rakyat tidak memilih pemimpin untuk menyaksikan perselisihan berkepanjangan. Rakyat memilih agar pemerintahan berjalan, pembangunan terlaksana, dan kepentingan masyarakat mendapat prioritas. Karena itu, baik bupati maupun wakil bupati memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa perbedaan tidak berubah menjadi penghambat pemerintahan.
Pada akhirnya, foto ini menyimpan pelajaran yang lebih besar daripada sekadar cerita dukungan partai. Ia mengingatkan bahwa dalam politik, kemenangan merupakan hasil dari banyak faktor. Ada orang yang tampil di panggung, ada yang bekerja di belakang layar, ada yang membuka jalan, dan ada yang mempertaruhkan reputasi demi sebuah keputusan.
Tidak semua kontribusi terlihat. Tidak semua pengorbanan tercatat. Namun, tidak terlihat bukan berarti tidak bernilai. Kepada siapapun yang kini berada di puncak kekuasaan, pesan ini patut direnungkan:
Jangan hanya mengingat orang-orang yang merayakan kemenanganmu. Ingatlah pula mereka yang ikut berjuang ketika kemenangan itu masih sebatas harapan. Jangan hanya menghargai dukungan ketika engkau membutuhkannya. Hargailah pula kemitraan setelah tujuan politik tercapai. Dan jangan pernah mengira bahwa keberhasilan hari ini menghapus kewajiban untuk menghormati proses kemarin. Sebab, orang yang melupakan perjuangan setelah menang sesungguhnya sedang merendahkan sejarah yang mengantarkannya menuju kemenangan itu sendiri. Cukup letakkan di hadapan sebuah foto, sebuah dokumen biru, dan sebuah pertanyaan tentang arti kebersamaan setelah kekuasaan berada dalam genggaman. (TS)






