19 Januari 2026
Opini

Belajar dari Lumpur: Spirit Kemanusiaan dan Keikhlasan Pejuang Pesantren Ummul Ayman III

Oleh : Abiya Dr. Mahdir Muhammad, MA.

OPINI -
Bencana banjir yang melanda wilayah Pidie Jaya tidak hanya menyisakan lumpur dan kerusakan fisik, tetapi juga menghadirkan pelajaran berharga tentang kemanusiaan. Di Pesantren Mahasiswa Ummul Ayman III, lumpur justru menjadi saksi lahirnya semangat juang, keikhlasan, dan solidaritas yang jarang ditemukan dalam situasi normal.
Sejak air surut, halaman pesantren, ruang belajar, hingga asrama dipenuhi lumpur tebal. Namun, di tengah keterbatasan alat dan minimnya bantuan, para santri, guru, mahasiswa, dan relawan turun bersama. Tanpa keluhan, mereka mengangkat ember, menyekop lumpur, dan membersihkan ruang-ruang ilmu yang selama ini menjadi pusat pembentukan akhlak dan intelektual.

Pemandangan itu bukan sekadar kerja bakti biasa. Ia adalah cermin nilai pesantren yang sesungguhnya: keikhlasan dalam berkhidmat dan keteguhan dalam ujian. Di Ummul Ayman III, lumpur tidak dipandang sebagai musibah semata, tetapi sebagai ujian kesabaran dan ladang amal. Setiap gerakan membersihkan lumpur menjadi dzikir, setiap tetes keringat menjadi doa agar pesantren kembali hidup.

Yang paling mengharukan, semangat itu tidak hanya datang dari santri. Para guru tetap hadir memberi teladan, sementara mahasiswa dan relawan dari berbagai latar belakang melebur tanpa sekat. Tidak ada status, tidak ada jabatan. Semua sama di hadapan lumpur, semua setara dalam pengabdian.
Peristiwa ini mengajarkan bahwa pesantren bukan hanya tempat belajar kitab dan teori kehidupan, tetapi juga ruang pembentukan karakter tangguh. Ketika bangunan rusak, nilai-nilai pesantren justru berdiri kokoh. Ketika fasilitas terbatas, rasa kemanusiaan tumbuh tanpa batas.

Belajar dari lumpur di Pesantren Mahasiswa Ummul Ayman III, kita disadarkan bahwa kekuatan sebuah lembaga pendidikan tidak semata diukur dari megahnya gedung, tetapi dari ketulusan orang-orang di dalamnya. Dari lumpur itulah lahir harapan, dari keikhlasan itulah masa depan dibangun. Pidie Jaya boleh dilanda banjir, tetapi semangat pejuang pesantren tidak pernah surut. Mereka mengajarkan kepada kita semua bahwa dalam setiap bencana, selalu ada pelajaran tentang iman, persaudaraan, dan kemanusiaan.