LIPUTANGAMPONGNEWS.ID - Air bah yang lima hari terakhir meluluhlantakkan Kabupaten Pidie Jaya akhirnya surut, namun meninggalkan luka panjang yang jauh dari kata selesai. Rumah-rumah yang terseret arus, jalan nasional yang rusak, serta jembatan yang patah hanyalah sebagian dari kerusakan yang kini membayangi kehidupan warga. Setelah genangan berlalu, hadir bencana baru: debu tebal yang mengepung hampir seluruh ruas jalan di Meureudu, Trienggadeng, Ulim hingga ke gampong-gampong terdalam.
Debu itu berasal dari lumpur yang mengering cepat akibat terik matahari beberapa hari terakhir. Setiap kali kendaraan melintas, kepulan debu mengapung dan menyusup ke celah-celah rumah, tenda pengungsian, hingga rongga napas warga yang belum sepenuhnya pulih dari trauma banjir. Kondisi ini membuat masyarakat semakin tertekan. “Gatal-gatal, batuk, flu, demam, semua mulai muncul. Anak-anak paling rentan,” ungkap Jefri, warga Meureudu, yang kini masih bertahan di posko pengungsian.
Menurutnya, warga sudah tidak hanya berjuang melawan rasa lapar atau kurangnya air bersih, tetapi juga mulai menghadapi ancaman penyakit yang menyebar dari debu dan lingkungan pascabanjir. Di posko, balita menangis karena iritasi, lansia mengeluh sesak, sementara para ibu kebingungan mencari obat-obatan yang tidak tersedia. “Selain logistik, kebutuhan paling mendesak saat ini adalah obat-obatan. Ini sudah darurat,” tegas Jefri.
Di luar posko, warga yang memutuskan pulang ke rumah ternyata tidak lebih beruntung. Meski atap masih di atas kepala, lantai rumah mereka masih terperangkap lumpur setebal lutut. Membersihkannya mustahil tanpa bantuan air bersih, sesuatu yang justru paling langka saat ini. Ironisnya, sebagian besar sumur warga masih berwarna coklat pekat, penuh lumpur dan belum layak digunakan.
Kondisi ini menambah panjang daftar kebutuhan mendesak bagi ribuan korban. Selain obat-obatan, warga juga membutuhkan susu bayi, popok, minyak telon, minyak kayu putih, bedak bayi dan selimut bayi, serta perlengkapan dasar lainnya untuk balita dan lansia. Para ibu muda semakin cemas melihat persediaan susu habis, sementara lansia mulai lemah karena kurang asupan dan udara tidak sehat yang terus menerpa.
Warga berharap Pemerintah Aceh, Pemerintah Pidie Jaya, Dinas Kesehatan Pidie Jaya, serta para dermawan membuka mata lebih lebar. “Kami tidak hanya butuh nasi dan mie instan,” kata seorang pengungsi lainnya. “Kami butuh kesehatan, butuh air bersih, butuh perlindungan. Anak-anak tidak boleh terus menghirup debu begini.” Harapan itu semakin menguat di tengah ancaman penyakit yang dapat berubah menjadi wabah bila tidak segera ditangani.
Karena itu, solusi cepat menjadi keharusan. Pemerintah didesak untuk segera menurunkan mobil tangki air bersih, melakukan penyiraman jalan-jalan penuh debu, mendirikan pos kesehatan tambahan di titik-titik pengungsian, serta menyediakan pasokan obat-obatan dan kebutuhan bayi-lansia. Pidie Jaya mungkin telah keluar dari air bah, tapi tanpa langkah cepat, kabupaten ini terancam tenggelam dalam krisis kesehatan yang jauh lebih berbahaya. (**)






