29 November 2025
Kisah

Warga yang Dikira Gelandangan Ternyata ODGJ, Terlantar Bermalam di Bawah Hujan Tanpa Uluran Tangan

Foto : Istimewa (kiriman warga) | LIPUTAN GAMPONG NEWS

LIPUTANGAMPONGNEWS.ID — Sebuah ironi sosial kembali mencuat di Kabupaten Pidie Jaya. Di tengah gencarnya Bupati menunjukkan kepedulian terhadap penanganan pasien dengan gangguan kesehatan jiwa, justru muncul keluhan bahwa sebagian jajaran yang memegang tanggung jawab langsung di bidang tersebut tidak memberikan respons memadai.

Warga yang telah melaporkan kondisi lapangan kepada salah satu Dinas sejak sepekan lalu dan mengaku suaranya tak digubris, seolah persoalan kemanusiaan ini bukan prioritas.

Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan pedas dari masyarakat: Apakah setiap langkah penyelesaian masalah harus menunggu perintah langsung dari Bupati terlebih dahulu? 

Minimnya inisiatif dari perangkat terkait dinilai sebagai gambaran lemahnya koordinasi sekaligus potret memprihatinkan birokrasi yang mestinya hadir cepat ketika warga memerlukan pertolongan.Seorang pria yang sempat dilaporkan sebagai gelandangan oleh masyarakat melalui Teuku Mukhlis, ternyata bukanlah tunawisma seperti yang disangka.

Ia adalah warga Meunasah Krueng Baroh, Gampong Manyang Cut, Kecamatan Meureudu, seseorang yang masih memiliki keluarga, rumah, dan identitas.

Namun fakta di lapangan justru jauh lebih memilukan. Pria tersebut kini mengalami gangguan jiwa (ODGJ) dan telah beberapa hari terlihat tidur beralaskan lantai semen di ruang terbuka.

Tanpa atap, tanpa pelindung, ia tetap terbaring meski hujan deras mengguyur kawasan itu. Tubuhnya basah kuyup, kedinginan, dan tampak kelaparan. Sementara puluhan pasang mata hanya melintas, tetapi tidak banyak yang berhenti untuk memberikan pertolongan.

Kondisi itu sontak menuai keprihatinan warga. Mereka menilai situasi tersebut semestinya bukan dibiarkan berlarut-larut, apalagi mengingat pria itu masih merupakan bagian dari komunitas setempat.

“Kami berharap ada tindak lanjut segera dari pihak terkait, baik Puskesmas, Dinas Kesehatan maupun Dinas Sosial P3A,” ujar beberapa warga. Mereka khawatir, tanpa penanganan medis dan sosial yang tepat, keselamatan pria itu bisa terancam.

Peristiwa ini sekaligus menjadi pengingat getir tentang lemahnya kepekaan sosial. Di tengah masyarakat yang semakin ramai, masih ada warga yang harus tidur di bawah hujan tanpa satu pun tangan yang terulur. 

Sebuah ironi yang seharusnya mengetuk kepedulian bersama, bahwa mereka yang mengalami keterbatasan mental juga berhak mendapatkan perhatian, perlindungan, dan perlakuan manusiawi. (*)