01 Januari 2026
Kisah

20 Tahun Terpisah, Dua Jurnalis Dipertemukan Kembali di Tengah Banjir

LIPUTANGAMPONGNEWS.IDWaktu memang kerap memisahkan, namun tak selalu mampu menghapus jejak persahabatan. Dua dekade berlalu tanpa kabar, tanpa temu, hingga akhirnya takdir mempertemukan kembali dua sahabat seprofesi di sebuah sudut sederhana Kota Subulussalam. Bukan di ruang redaksi, bukan pula di acara resmi, melainkan di warung warga, tempat cerita-cerita kemanusiaan sering lahir tanpa disadari.

Rabu, 31 Desember 2025, menjadi hari yang tak biasa bagi Awi. Di tengah aktivitas peliputan dampak banjir, sosok Muhammad Adhar akrab disapa Rizal, wartawan Metrozone.net asal Kabupaten Nagan Raya, tiba-tiba berdiri di hadapan seorang kawan lama. Dua puluh tahun berpisah, dua puluh tahun menua oleh waktu dan liputan, namun ingatan tentang persahabatan itu tetap utuh.

Pertemuan itu seketika membungkam kata. Ada senyum yang tertahan, ada mata yang berkaca-kaca. Muhammad Adhar mengaku sangat terharu bisa kembali bertemu sahabatnya di Kota Subulussalam. “Alhamdulillah, akhirnya kita dipertemukan kembali,” ucapnya lirih, seolah tak ingin momen itu cepat berlalu.

Obrolan pun mengalir pelan, dibingkai suara alam dan cerita tentang bencana. Adhar berkisah tentang situasi alam yang kian rapuh, tentang banjir dan musibah yang silih berganti di berbagai daerah. Baginya, perubahan zaman tak hanya menghadirkan tantangan bagi alam, tetapi juga memanggil nurani manusia untuk saling hadir dan peduli.

Ia menuturkan, banjir besar yang melanda sejumlah kabupaten dan kota di Aceh pada akhir 2025 memang meninggalkan luka dan duka. Namun di balik lumpur dan air bah, selalu ada kisah yang menguatkan. Kisah tentang kepedulian, tentang relawan yang datang tanpa pamrih, dan tentang persahabatan lama yang kembali dipertemukan oleh peristiwa kemanusiaan.

Tak disangka, dua rekan jurnalis yang terpisah hampir 20 tahun justru kembali bertemu di tengah peliputan banjir Subulussalam. Tanpa janji, tanpa rencana. Pertemuan itu terjadi begitu saja, di sela kesibukan menyampaikan kabar tentang penderitaan dan harapan warga terdampak.

“Ini pertemuan yang mengharukan,” kata Adhar. Di tengah tugas jurnalistik dan aksi kemanusiaan, mereka dipertemukan kembali oleh jalan yang sama, jalan pengabdian pada informasi dan kemanusiaan. Banjir yang memaksa banyak pihak turun tangan, juga mempertemukan kembali wajah-wajah lama yang pernah berjalan bersama dalam profesi yang sama.

Akhir tahun 2025 pun menutup dirinya dengan sebuah pelajaran bermakna, bahwa di balik setiap bencana, selalu ada hikmah yang tak terduga. Bagi Muhammad Adhar dan sahabat lamanya, Subulussalam bukan sekadar lokasi liputan, melainkan titik temu takdir, tempat persahabatan lama kembali bernapas, diselimuti haru, syukur, dan harapan baru. (BM)