BANJIR ACEH
Tangis UMKM Korban Banjir Pidie Jaya: Maulinar Menjual Mie dan Beras Bantuan untuk Bertahan Hidup
Foto : Maulinar, Pelaku UMKM Korban Banjir Pidie Jaya | LIPUTAN GAMPONG NEWS
LIPUTANGAMPONGNEWS.ID -Kisah pilu dialami Maulinar, seorang ibu dan pelaku UMKM asal Gampong Dayah Kruet, Kecamatan Meurah Dua, Kabupaten Pidie Jaya. Banjir bandang yang melanda Aceh pada 26 November 2025 silam menjadi titik balik dalam hidupnya. Dalam satu malam yang mencekam, air bah meluluhlantakkan harapan, usaha, dan sumber penghidupan yang selama ini ia bangun dengan susah payah demi anak-anaknya, sementara sang suami merantau ke luar daerah.
Pidie Jaya menjadi salah satu kabupaten yang terdampak paling parah dalam bencana tersebut. Di daerah itulah Maulinar menetap dan membuka usaha kecil laundry yang menjadi tumpuan hidup keluarganya. Dengan penghasilan pas-pasan, usaha itu setidaknya mampu menghidupi kebutuhan sehari-hari. Namun semua berubah ketika arus deras datang tiba-tiba, tanpa memberi kesempatan untuk menyelamatkan apa pun.
Dalam kepanikan dan ketakutan, Maulinar hanya memikirkan keselamatan anak-anaknya. Air bah yang datang dengan kekuatan besar memaksa ia mengambil keputusan cepat di tengah keterbatasan. Dengan tenaga seadanya, ia mengangkat anak-anaknya ke atas atap ruko kecil yang menjadi rumah sekaligus satu-satunya tempat usaha yang ia miliki. “Saat itu saya hanya pasrah dan berserah diri kepada Allah,” tuturnya lirih.
Ketinggian air bercampur lumpur mencapai sekitar dua meter di lokasi usahanya. Mesin cuci, peralatan laundry, dan seluruh perlengkapan kerja rusak bahkan hanyut terbawa arus. Tidak ada satu pun yang tersisa. Dalam hitungan menit, usaha yang menjadi sumber nafkah keluarganya hancur total. “Tak ada satupun mesin dan peralatan kerja yang tersisa, semuanya lenyap diterjang banjir bandang,” katanya sedih.

Beruntung, nyawa Maulinar dan anak-anaknya selamat dari maut. Namun keselamatan itu harus dibayar mahal dengan hilangnya seluruh penghidupan. Tanpa suami di sisinya dan tanpa modal untuk memulai kembali, ia kini berada dalam kondisi yang sangat sulit. “Alhamdulillah kami selamat, tapi usaha saya hancur total,” ucapnya.
Untuk sekadar bertahan hidup, Maulinar terpaksa menjual mi instan dan beras bantuan yang ia terima pasca bencana. Bantuan yang seharusnya menjadi penopang sementara, kini berubah menjadi satu-satunya cara untuk membeli kebutuhan harian. “Saya memang punya usaha laundry, tapi sekarang mesin cuci dan alat kerja semua rusak. Terpaksa saya jual beras dan mi bantuan untuk menyambung hidup,” ujarnya.
Langkah itu bukan pilihan yang mudah bagi seorang ibu. Namun keterdesakan ekonomi memaksanya bertahan dengan cara apa pun demi anak-anaknya. Setiap bungkus mi dan takaran beras yang dijual menyimpan luka, sekaligus harapan agar esok masih bisa makan dan bertahan di tengah keterbatasan.
Kini, Maulinar hanya bisa berdoa dan berharap uluran tangan datang, terutama bantuan modal usaha agar ia dapat merintis kembali usaha laundry yang hancur diterjang bencana. Kisah Maulinar adalah potret penderitaan korban banjir bandang di Pidie Jaya, jeritan lirih seorang ibu yang berharap pemerintah dan para pemangku kepentingan tidak berpaling, dan kembali menyalakan harapan di tengah puing-puing kehidupan yang tersisa. (TS)






