BANJIR ACEH
Tak Kenal Hari Libur, Duo ASN Pidie Jaya Kembali Antar Bantuan Trisakti untuk Korban Banjir
LIPUTANGAMPONGNEWS.ID - Tak mengenal hari libur, dua Aparatur Sipil Negara (ASN) asal Kabupaten Pidie Jaya kembali menapaki jalan kemanusiaan. Minggu (18/1), di bawah terik matahari dan sisa lumpur banjir, Teuku Yusmadi Arkasih, SE dan Fakhrurrazi, M.Si menyalurkan bantuan dari Universitas Trisakti Jakarta untuk korban banjir bandang di Gampong Blang Cut, Kecamatan Meurah Dua, Pidie Jaya, Aceh.
Bantuan yang disalurkan berupa bahan pangan, selimut, dan kebutuhan dasar lainnya, ditujukan bagi warga yang masih bertahan di rumah-rumah terdampak maupun pengungsian. Sejumlah logistik bantuan kemanusiaan menjadi saksi kepedulian yang datang dari jauh namun terasa dekat bagi para penyintas bencana.
Tak hanya Blang Cut, duo ASN ini juga bergerak ke sejumlah desa lain di kecamatan berbeda. Dengan kendaraan minibus seadanya, mereka memastikan bantuan benar-benar sampai ke tangan warga yang membutuhkan, termasuk wilayah yang sulit dijangkau. Langkah mereka konsisten, menjangkau yang terjauh, mendahulukan yang paling terdampak.
Teuku Yusmadi Arkasih dan Fakhrurrazi dikenal sebagai dua pemuda Pidie Jaya yang tak kenal lelah dalam pengabdian kemanusiaan. Meski memiliki tanggung jawab sebagai ASN, panggilan nurani membuat mereka terus turun langsung ke lapangan, menjadi jembatan antara donatur dan korban bencana. Bagi mereka, jabatan bukan alasan untuk berjarak dari penderitaan rakyat.
Sebelumnya, duo relawan ini juga telah mengantarkan bantuan Universitas Trisakti ke Gampong Lhok Sandeng, Kecamatan Meurah Dua, titik pengungsian terjauh yang terdampak paling parah. Di desa tersebut, puluhan rumah hanyut dibawa air bah, bahkan tanah tempat pondasi rumah ikut tergerus dan berubah menjadi alur sungai baru, memaksa warga menetap di posko pengungsian sambil menunggu hunian sementara dan kepastian lahan baru.
Aksi kemanusiaan yang dilakukan tanpa pamrih ini mendapat sambutan hangat dari warga. Kehadiran relawan lokal yang terus datang, bahkan di hari libur, menjadi penguat harapan di tengah kelelahan dan ketidakpastian. Di antara lumpur dan puing, kepedulian terus hidup menjadi cahaya kecil yang menuntun Pidie Jaya untuk bangkit kembali. (**)






