24 Mei 2026
Sosial
Korban Badai Monsun

Sigap Saat Musibah, Tanggap Saat Dibutuhkan, Bupati Pidie Jaya Hadir Menguatkan Hati sang Janda

Foto : Bupati Pidie Jaya, Sibral Makasyi, MA | LIPUTAN GAMPONG NEWS

LIPUTANGAMPONGNEWS.IDLangit Meureudu belum benar-benar cerah ketika jejak musibah masih terlihat di sudut-sudut rumah warga. Atap seng yang beterbangan, dinding yang basah diterpa hujan, hingga tatapan cemas para ibu dan anak-anak menjadi saksi bagaimana angin puting beliung memporak-porandakan kehidupan warga dalam hitungan menit. Di tengah suasana itu, sebuah rumah sederhana milik Riska di dusun Lhoknga, Gampong Mesjid Tuha menjadi perhatian banyak orang. Rumah seorang janda miskin yang baru 45 hari meninggal suaminya, kembali diuji badai kehidupan.

Perempuan itu tak banyak bicara, sesekali ia hanya memandang atap rumahnya yang rusak sambil menggenggam tangan anaknya. Musibah datang begitu cepat, seolah belum memberi ruang baginya untuk pulih dari kehilangan. Tetangga berdatangan membantu membereskan puing-puing yang berserakan. Di gampong kecil itu, kesedihan satu keluarga menjadi duka bersama.

Namun di tengah kepanikan dan cuaca yang masih tak menentu, pemerintah daerah memilih untuk tidak tinggal diam. Langkah cepat dilakukan begitu laporan kerusakan diterima. Aparat gampong, BPBD, Dinsos, hingga unsur pemerintah lainnya turun langsung ke lokasi memastikan kondisi warga yang terdampak. Kehadiran mereka bukan sekadar membawa bantuan, tetapi juga menghadirkan rasa tenang bahwa masyarakat tidak sedang menghadapi bencana seorang diri.

Bupati Pidie Jaya, Sibral Malasyi turun langsung menyerahkan bantuan masa panik kepada korban. Di halaman rumah yang masih dipenuhi bekas terjangan badai, bantuan diserahkan dengan sederhana namun penuh makna. Bagi warga kecil yang sedang tertimpa musibah, perhatian dan kehadiran pemerintah sering kali jauh lebih berharga daripada sekadar angka bantuan.

Peristiwa itu menjadi gambaran bahwa saat bencana datang, yang paling dibutuhkan masyarakat bukan hanya material, tetapi kepastian bahwa ada yang peduli. Bahwa di tengah angin yang merobohkan atap rumah dan menghancurkan harapan, masih ada tangan-tangan yang sigap mengulurkan bantuan. Pemerintah hadir bukan hanya sebagai institusi, melainkan sebagai pelindung yang berdiri bersama rakyatnya saat masa sulit.

Kini, warga mulai perlahan membersihkan sisa-sisa kerusakan. Anak-anak kembali bermain di halaman, meski sebagian atap rumah masih berlubang. Di balik musibah yang datang tanpa aba-aba itu, tersisa satu pelajaran berharga, bahwa kebersamaan dan kepedulian adalah pondasi paling kuat saat bencana menerpa. Sebab bagi masyarakat kecil, kehadiran yang sigap dan tanggap adalah harapan yang membuat mereka tetap kuat bertahan. (**)