LIPUTANGAMPONGNEWS.ID - Di tengah sisa-sisa lumpur yang masih melekat di jalanan kampung, Anies Baswedan hadir di lokasi pengungsian banjir bandang Pidie Jaya, Aceh. Kedatangannya bukan sekadar kunjungan seremonial, melainkan langkah sunyi seorang akademisi dan tokoh nasional yang memilih menjejak langsung tanah luka. Ia didampingi Usman (USM), Keuchik salah satu gampong di Kecamatan Meurah Dua, sosok akar rumput yang sejak awal bencana berdiri di barisan terdepan bersama warganya.
Kabupaten Pidie Jaya porak-poranda sejak banjir bandang 26 November 2025 silam. Rumah-rumah rusak, akses kampung terputus, dan kehidupan warga berubah dalam sekejap. Di antara tenda-tenda pengungsian, Anies menyusuri lorong sempit, menyapa warga dengan senyum dan jabat tangan yang tulus, seolah ingin memastikan mereka tidak sendiri menghadapi hari-hari berat pascabencana.
Tanpa canggung, Anies berbaur dengan para pengungsi. Ia mendengarkan cerita kehilangan, keluh kesah, dan harapan yang masih tersisa. Didampingi Keuchik USM, Anies menyalami satu per satu pengungsi di tenda-tenda, memeluk anak-anak, dan berbincang dengan para orang tua yang wajahnya menyimpan letih sekaligus ketabahan.
Kehadirannya juga disertai bantuan kemanusiaan untuk korban banjir di Aceh. Bantuan itu mungkin tak mampu mengganti seluruh yang hilang, tetapi menjadi penanda kepedulian yang menguatkan. Di mata warga, perhatian dan empati sering kali sama berharganya dengan logistik yang dibawa.
USM dan Anies, dua sosok yang dikenal merakyat, tampak berada dalam frekuensi yang sama. Keduanya memahami betul nasib para korban banjir yang kehilangan tempat tinggal, harta benda, bahkan rasa aman. Dalam setiap langkah, USM terlihat tak sekadar mendampingi, tetapi memastikan suara warganya sampai dan kebutuhan mereka tertangani.
USM sendiri adalah korban banjir. Namun duka tak membuatnya berhenti. Ia tetap bekerja keras demi kampungnya agar segera pulih. Sejak hari-hari awal bencana, ia mengoordinasikan warga, relawan, dan siapa pun yang mau membantu, demi membuka kembali denyut kehidupan gampong yang sempat terhenti.
Ratusan truk lumpur telah diangkut dan dipindahkan dari jalan-jalan kampung yang menjadi akses utama warga. Proses itu berlangsung bertahap, melelahkan, dan penuh keterbatasan. Namun satu demi satu, jalan kembali bisa dilalui, sekolah dan aktivitas warga perlahan bergerak menuju normal.
Semangat membantu itu bukan hal baru bagi USM. Ia merupakan alumni SMA Negeri 1 Meureudu angkatan 1995, dan sejak usia sekolah dikenal sebagai pribadi yang ringan tangan, dekat dengan siapa saja, serta peka terhadap kesulitan orang lain. “Walau tanpa anggaran, kita tetap bertekad mengangkut lumpur-lumpur itu keluar dari kampung,” ujarnya Senin (22/12). “Alhamdulillah, selalu ada yang membantu.” Di Pidie Jaya, kisah kemanusiaan itu terus hidup, tentang pemimpin yang hadir, dan warga yang bertahan dengan gotong royong serta harapan. (**)






