Ketika Ilalang Menggantikan Padi, Kini Harapan Perubahan Petani Pidie Jaya Ikut Memudar
LIPUTANGAMPONGNEWS.ID - Di sepanjang jalan provinsi yang membelah Kecamatan Meurah Dua, Kabupaten Pidie Jaya, hamparan hijau kini bukan lagi pemandangan yang menenangkan. Dari kejauhan, ilalang dan semak belukar tumbuh rapat menutupi lahan pertanian warga di Kemukiman Kuta Simpang. Dari pinggir jalan, tak lagi terlihat petak-petak sawah atau kebun yang dulu menjadi sumber kehidupan masyarakat. Yang tampak hanyalah ladang yang seolah ditinggalkan waktu.
Bagi petani di kampung itu, pemandangan tersebut bukan pertanda kesuburan, melainkan luka yang belum sembuh sejak banjir bandang berskala besar melanda sejumlah wilayah Aceh, termasuk Pidie Jaya, Aceh Tamiang, Aceh Timur, Aceh Tenggara, dan Aceh Utara. Air memang telah lama surut, tetapi bekasnya masih membekas di tanah, di hati, dan di dapur-dapur warga yang kehilangan mata pencaharian.
"Kalau dulu pagi-pagi kami sudah turun ke sawah. Sekarang yang turun cuma rumput," ujar seorang petani dengan senyum pahit. Menurutnya, lahan yang selama bertahun-tahun menjadi tempat mencari nafkah kini berubah menjadi belukar. Modal untuk membersihkan lahan tidak ada, sementara hasil panen sebelumnya juga habis diterjang banjir.

Di beberapa titik, pohon-pohon liar tumbuh di tengah bekas areal persawahan warga. Ilalang menjulang setinggi dada orang dewasa, menutupi batas-batas pematang yang dulu begitu jelas. Siapa pun yang melintas mungkin mengira kawasan itu adalah hutan muda, padahal di balik semak tersebut tersimpan harapan ratusan keluarga petani yang belum mampu bangkit.
Bukan hanya sawah yang hilang, tetapi juga pekerjaan. Banyak petani terpaksa menganggur atau mencari pekerjaan serabutan demi menyambung hidup. Ada yang menjadi buruh harian, ada pula yang merantau ke daerah lain. "Kalau sawah belum bisa digarap, mau makan dari mana? Kami ini menggantungkan hidup dari hasil pertanian, bukan dari cerita dan janji perubahan," kata seorang warga dengan nada lirih.
Masyarakat berharap perhatian pemerintah dan semua pihak tidak hanya berhenti pada penanganan saat bencana terjadi. Mereka menilai fase pemulihan seharusnya juga menyentuh sektor pertanian melalui bantuan pembersihan lahan, alat pertanian, bibit, hingga dukungan modal agar petani dapat kembali menanam. Sebab tanpa itu, lahan akan terus dikuasai ilalang, sementara kehidupan petani semakin terpuruk.
Di Kemukiman Kuta Simpang, yang meliputi gampong Babah Jurong, Pante Beureune, Beuringen, Lueng Bimba, dan Buangan suara mesin traktor kini nyaris tak terdengar. Yang terdengar hanya desir angin yang menggoyang ilalang dan ranting-ranting liar. Alam perlahan mengambil kembali lahan yang dulu dikelola manusia. Pemandangan itu mengingatkan kita semua bahwa pemulihan pasca bencana bukan hanya soal memperbaiki jalan dan jembatan, tetapi juga menghidupkan kembali sumber penghidupan masyarakat.
Kini, petani Meurah Dua hanya berharap musim depan membawa perubahan. Mereka tidak meminta belas kasihan, hanya kesempatan untuk kembali mengolah tanahnya sendiri. Sebab bagi orang kampung, sawah bukan sekadar hamparan tanah. Sawah adalah harga diri, tempat menyekolahkan anak, mengisi lumbung padi, dan menjaga kehidupan agar tetap berjalan. Selama ilalang masih menguasai lahan itu, selama itu pula harapan petani belum benar-benar pulih. (**)







