29 April 2026
Budaya

Kemenbud Gelar Trauma Healing bagi Anak Penyintas Korban Banjir di Pidie Jaya

Foto : Rombongan Kemenbud RI berfoto bersama dengan anak-anak pemyintas korban banjir Pidie Jaya, Aceh | LIPUTAN GAMPONG NEWS

LIPUTANGAMPONGNEWS.IDKementerian Kebudayaan (Kemenbud) Republik Indonesia melalui Direktorat Bina Sumber Daya Manusia, Lembaga, dan Pranata Kebudayaan menggelar program trauma healing dan pemulihan psikososial bagi anak-anak korban banjir di Kabupaten Pidie Jaya, Aceh.

Kegiatan berlangsung di Museum Pidie Jaya, Taman Kota Cot Trieng, Selasa (28/4/2026), bertema “Hina bak donya hareuta teuh tan, Hina bak Tuhan ileume teuh hana” ini, diikuti sekitar 140 siswa SD/MI dari wilayah terdampak bencana hidrometeorologi pada November lalu.

Program tersebut melibatkan kolaborasi dengan Sanggar Seni Cut Meutia sebagai pelaksana kegiatan, dengan menghadirkan berbagai aktivitas interaktif berbasis budaya untuk membantu pemulihan psikologis anak.

Sejumlah permainan tradisional khas Aceh seperti catoe, terompah, plung ija kroeng, hingga permainan edukatif berburu harta karun di lingkungan museum menjadi bagian dari rangkaian kegiatan yang membuat anak-anak sangat terhibur.Selain itu, anak-anak juga disuguhkan sesi dongeng, cerita rakyat (story telling), serta pertunjukan seni seperti tari teumampoe dan musik tradisional yang dibawakan oleh sanggar seni lokal.

Irini Dewi Wanti, Direktur Film, Musik, dan Seni Kementerian Kebudayaan, yang hadir dalam kegiatan tersebut, menyampaikan pesan motivasi kepada para peserta agar tetap semangat meraih cita-cita meski terdampak bencana.

“Melalui kegiatan ini, kami ingin menghadirkan ruang yang menyenangkan sekaligus memulihkan kondisi emosional anak-anak,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa kebudayaan memiliki peran strategis, tidak hanya sebagai sarana ekspresi dan edukasi, tetapi juga sebagai media pemulihan psikososial yang efektif, khususnya bagi anak-anak pascabencana.

Pamong Budaya Direktorat Bina SDM Kemenbud RI, Purnawan Andra, menambahkan pentingnya penguatan tata kelola lembaga kebudayaan, terutama di daerah terdampak bencana seperti Pidie Jaya.

Menurutnya, kegiatan ini bertujuan mengembalikan semangat serta nilai-nilai kehidupan yang sempat terganggu akibat bencana.

“Kami berharap tawa dan keceriaan anak-anak tetap terjaga, serta mereka mampu melihat masa depan yang lebih baik. Museum ini menjadi simbol refleksi bahwa bencana adalah bagian dari kehidupan yang harus dihadapi bersama,” katanya.

Sementara itu, Marzuan, Kepala Bidang Kebudayaan mewakili Kepala Disdikbud Pidie Jaya, menyampaikan apresiasi kepada Kementerian Kebudayaan atas pelaksanaan program tersebut.

Ia berharap dukungan serupa dapat terus berlanjut, tidak hanya dalam bentuk pemulihan psikososial, tetapi juga pengembangan sektor kebudayaan di daerah yang kaya akan nilai kearifan lokal peninggalan masa lalu.

“Kami berharap ada program lanjutan yang memberikan dampak besar bagi pendidikan dan kebudayaan anak-anak di Pidie Jaya,” ujarnya. (*)