04 April 2025
Budaya

Jeungki, Warisan Penumbuk Tradisional Aceh yang Kian Tergerus Zaman

Foto : Dok. Google Image | LIPUTAN GAMPONG NEWS

LIPUTANGAMPONGNEWS.IDJeungki, alat penumbuk tradisional masyarakat Aceh, telah lama menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, terutama dalam mengolah bahan makanan. Terbuat dari kayu keras yang tahan lama, Jeungki memiliki bentuk yang sederhana namun fungsional. Dengan tuas panjang yang terpasang pada tumpuan, alat ini bekerja dengan prinsip tekanan dan tenaga manusia untuk menumbuk berbagai bahan seperti kopi, sagu, emping beras, hingga bumbu dapur. Keberadaannya menjadi simbol kearifan lokal yang diwariskan turun-temurun dari leluhur.

Dalam pengolahan makanan tradisional, Jeungki memegang peranan penting. Salah satu penggunaannya yang paling umum adalah menumbuk kelapa parut guna mengekstrak minyak secara alami. Proses ini dilakukan dengan menghancurkan daging kelapa hingga mengeluarkan sari minyaknya, yang kemudian dikumpulkan dan dimasak menjadi minyak kelapa murni. Selain itu, alat ini juga digunakan untuk menumbuk beras hingga menjadi emping, yang sering dijadikan penganan khas dalam berbagai upacara adat.

Jeungki juga berfungsi dalam pembuatan tepung tradisional, seperti tepung sagu dan tepung beras. Proses ini memerlukan ketekunan dan kekuatan fisik karena bahan yang ditumbuk harus melalui beberapa tahap hingga mencapai tekstur yang diinginkan. Tak hanya itu, alat ini digunakan dalam pembuatan berbagai jenis rempah-rempah yang menjadi ciri khas masakan Aceh, seperti campuran bumbu gulai dan rendang yang memerlukan tumbukan halus agar cita rasanya semakin kaya.

Meskipun fungsinya sangat beragam, penggunaan Jeungki kini mulai berkurang. Perubahan zaman dan masuknya teknologi modern menyebabkan masyarakat beralih ke alat-alat elektrik yang lebih praktis. Penggunaan blender, mesin giling, dan peralatan mekanis lainnya membuat Jeungki perlahan tersingkir dari dapur rumah tangga. Namun, di beberapa pelosok desa, masih ada keluarga yang mempertahankan alat ini, baik karena kebiasaan maupun keyakinan bahwa hasil tumbukan Jeungki lebih alami dibandingkan mesin modern.

Seiring dengan perkembangan zaman, keberadaan Jeungki semakin jarang ditemukan di rumah-rumah masyarakat Aceh. Beberapa pengrajin kayu yang dulunya rutin membuat alat ini kini mulai beralih profesi karena minimnya permintaan. Jika tidak ada upaya pelestarian, Jeungki bukan tidak mungkin hanya tinggal kenangan sebagai bagian dari sejarah kuliner tradisional Aceh.

Oleh karena itu, penting bagi masyarakat dan pemerintah daerah untuk menjaga kelestarian Jeungki sebagai warisan budaya. Salah satu cara yang dapat ditempuh adalah dengan mengadakan pelatihan dan festival kuliner tradisional yang mengedepankan penggunaan Jeungki. Dengan demikian, generasi muda tetap mengenal dan menghargai alat ini, sehingga kearifan lokal yang terkandung di dalamnya tidak lenyap ditelan arus modernisasi. (**)