03 Juli 2026
Daerah

Dari Pedagang Bumbu Pecal Keliling Menjadi Satpam Pertamina, Perjalanan Hidup Chairul Azmi Menginspirasi

LIPUTANGAMPONGNEWS.IDMasa depan adalah sebuah teka-teki misterius. Tidak ada satu pun dari kita yang bisa menduga akan berada di mana dan menjadi apa kita hari ini. Namun satu hal yang sering terbukti: usaha yang dijalani dengan sungguh-sungguh jarang berakhir sia-sia. Seperti pepatah Arab klasik mengingatkan kita: Man jadda wa jadda—siapa yang bersungguh-sungguh, dia pasti akan berhasil. Kalimat bijak inilah yang menjadi jangkar hidup bagi Chairul Azmi, seorang pemuda yang kini kokoh berdiri sebagai staf Satuan Pengamanan (Satpam) di PT Pertamina EP Ranto Field, Kabupaten Aceh Tamiang. Sebelum seragam gagah itu melekat di tubuhnya, Chairul adalah seorang petarung nasib yang telah mengecap getirnya kehidupan.

Ketabahan yang Ditempa Sejak Kecil

Lahir pada 24 Januari 1993 di Kampung Alur Manis, Kecamatan Rantau, Aceh Tamiang, Chairul merupakan anak ke-10 dari 11 bersaudara. Sejak kecil ia tumbuh dalam keterbatasan. Ayahnya, Yusmanruddin, seorang pekerja serabutan dan ibunya, Nursiah, adalah seorang ibu rumah tangga. Keadaan memaksanya mandiri sejak dini. Ujian hidup terasa kian berat menekan pundaknya ketika baru menyelesaikan sekolah di SMAN 1 Kejuruan Muda, sang ayah tercinta berpulang ke rahmatullah.

Kehilangan tiang sandaran keluarga tidak membuat Chairul patah arang. Didorong tekad kuat untuk mengangkat derajat ekonomi keluarga, tamat SMA tahun 2012 ia nekat mendaftarkan diri ke Jurusan Matematika Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan, IAIN Cot Kala Langsa. "Sejak awal mendaftar, sempat terbersit rasa ragu. Bagaimana saya bisa menyelesaikan kuliah tanpa biaya?" kenang Chairul. Namun, ia memegang keyakinan besar bahwa menuntut ilmu adalah ibadah mulia, dan Allah akan membantunya menyelesaikan.

Demi menyambung hidup dan membayar kuliah, Chairul membuang jauh rasa gengsi. Di sela-sela waktu luang, ia berkeliling menjajakan bumbu pecal racikan ibunya. Ia juga meluangkan waktu untuk mengajar anak-anak di SMPN 6 Bendahara tanpa bayaran, sebuah sekolah yang saat itu sedang kekurangan guru, dengan niat sebagai amal ibadah dan juga menjadi bekal pengalaman begitu selesai kuliah.

Namun, roda hidup tidak selalu mulus. Ada kalanya setelah jam kuliah usai, Chairul tidak punya uang sepeser pun untuk ongkos pulang. Ia terpaksa menggelar sajadah dan tidur di musala atau masjid dekat kampus. Kelelahan fisik yang menumpuk bertahun-tahun akhirnya membuat tubuhnya tumbang. Chairul jatuh sakit parah hingga terpaksa cuti kuliah selama satu tahun. Perjuangan panjang itu akhirnya berbuah manis pada April tahun 2018, saat ia resmi menyandang gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd.).

Banting Setir Demi Bakti kepada Ibu

Meski impian menjadi guru matematika begitu besar, realitas hidup kembali mengujinya karena ada sang ibu yang harus dinafkahi. Chairul sempat merantau ke Batam dan mengajar di sebuah pesantren selama dua tahun dengan penghasilan sederhana, tetapi cukup untuk bertahan. Namun, ketika mendengar kabar ibunya sakit, tanpa ragu Chairul melepaskan pekerjaan tersebut dan pulang ke kampung halaman demi merawat sosok yang paling berjasa dalam hidupnya.

Kembali ke daerah asal dengan lapangan kerja yang terbatas membuatnya harus memutar otak. Chairul memutuskan untuk merantau lagi ke Medan. Di tengah sulitnya mencari pekerjaan yang sesuai latar belakang pendidikannya, Chairul menurunkan ego. "Pekerjaan apa saja akan saya terima, yang penting halal dan bisa membantu Ibu," batinnya.

Peluang itu akhirnya datang dari profesi Satpam. Meski sempat ada pergolakan batin karena melenceng dari gelar sarjananya, Chairul memilih bersyukur. Ia pun mulai mengumpulkan pengalaman dengan bekerja sebagai satpam di beberapa perusahaan di Kota Medan.

Titik Balik: Menempa Diri Bersama PT. Satria Suardipta Abadi 

Tahun 2020 menjadi gerbang pembuka takdir baru, melihat pekerjaan Chairul saat ini sebagai satpam seorang keluarga dekatnya memberi saran jika dia serius ingin meneruskan karir sebagai satpam, saudaranya menyarankan Chairul untuk membekali diri dengan sertifikasi resmi dari lembaga pelatihan satpam yang memiliki kredibilitas nasional.

Sadar ini peluang emas, Chairul mengamini saran dari saudaranya. Penelusuran di internet menuntunnya pada PT. Satria Suardipta Abadi (PT SSA) di Jl. Tanoh Abee II, No. 29 Kota Baru, Kec. Kuta Alam, Kota Banda Aceh. "Pelayanannya sangat baik dan ramah. Proses registrasinya cepat, transparan, dan tidak rumit," ujar Chairul. Dua minggu setelah mendaftar, ia langsung diberangkatkan untuk mengikuti pelatihan di Kompleks Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan Aceh, Neuheun, Kabupaten Aceh Besar.

Selama 17 hari penuh, Chairul bersama 62 peserta lainnya dididik dalam sistem asrama semi-militer yang ketat. "Hal ini dilakukan semata-mata untuk mendidik jiwa, membentuk karakter, dan menggembleng mental para siswa agar siap bekerja dalam kondisi tersulit sekalipun," ungkap M. Rifki Firnanda, Direktur PT SSA.

Materi pelatihan yang diberikan mengacu pada standar kurikulum nasional Peraturan Kapolri, dibimbing langsung oleh instruktur ahli dari anggota Polri rekomendasi Polda Aceh. Bagi Chairul, kedisiplinan ini adalah berkah. "Semua kegiatan harus tepat waktu sesuai jadwal, persis budaya disiplin di Jepang. Saya sangat menikmatinya," kenang Chairul.

Bagi rekan sesama angkatan yang belum pernah bekerja, latihan fisik ini terasa berat. Namun bagi Chairul, gemblengan mental ini justru menjadi penolong utamanya untuk menghadapi kerasnya dunia kerja nyata yang menuntut kesabaran ekstra.

Peringkat Pertama di Perusahaan Penjaga Energi Negeri

Berbekal ijazah resmi dan mental baja hasil didikan PT SSA, Chairul melamar ke PT Pertamina EP Ranto Field pada tahun 2021. Proses rekrutmen yang bekerja sama dengan pemerintah daerah Aceh Tamiang ini berlangsung sangat ketat selama hampir enam bulan, melewati tahapan administrasi, ujian tulis, psikotes, samapta, tes kesehatan, hingga wawancara.

Di sinilah investasi ilmunya di pelatihan terbayar lunas. Modul materi dan bimbingan teknis yang ia dapatkan selama pelatihan membantunya menjawab sebagian besar pertanyaan ujian dengan sangat baik.

Pada November 2021, pengumuman resmi dikeluarkan. Dari ratusan pelamar, Chairul Umam berhasil lulus dengan peringkat pertama. Kebahagiaannya kian lengkap karena Febby Nauly Yusmanita (rekan seangkatannya) serta Fajar Fadillah dan Syahrial (abang leting) dari Pelatihan PT SSA juga ikut diterima bersamanya.

Bekerja di PT Pertamina EP Ranto Field—unit usaha hulu migas di bawah naungan BUMN terbesar di Indonesia yang telah beroperasi sejak tahun 1928—adalah mimpi yang menjadi kenyataan. Di perusahaan ini, Chairul menemukan lingkungan kerja yang profesional, suportif, penuh kekeluargaan, serta menghargai potensi putra daerah untuk berkembang.

Buah Manis dari Ketulusan dan Doa

Kini, awan mendung kehidupan Chairul telah berganti cerah. Segala beban masa kecil dan lelahnya merantau telah terbayar tunai. Bekerja di PT Pertamina EP Ranto Field memberikan stabilitas hidup yang ia impikan. Lokasi kerja yang dekat dengan rumah, penghasilan di atas upah minimum regional. Dan saat itu terpenting adalah pekerjaan ini membuatnya bisa tetap mengabdi dan merawat ibunya setiap hari. (Namun sang ibunda kemudian meninggal dunia pasca bencana hidrometeorologi Aceh 2025 lalu)

Bahkan, pada November 2023 lalu, berbekal tabungan dari hasil kerja kerasnya, Chairul telah meminang kekasih hatinya, Ayu Lestari. Kebahagiaan mereka kini semakin lengkap dengan kehadiran dua buah hati, Adiba Khaira Azzahra (21 bulan) dan Muammar Albi Khadafi (1 bulan).

"Saya meyakini satu hal, tidak ada perjuangan yang sia-sia jika kita menjalaninya dengan jujur, sabar, dan ikhlas. Apa yang saya nikmati hari ini adalah ketetapan terbaik dari Allah. Bisa jadi, ini adalah buah dari doa kedua orang tua saya dan doa orang-orang yang dulu pernah saya bantu," ucap Chairul penuh syukur.

Kepada generasi muda yang masih berjuang, Chairul menitipkan pesan motivasi: "Jalani saja pekerjaan atau proses yang ada di depan mata dengan baik, jujur dan ikhlas. Perbanyak doa, tingkatkan ibadah, dan jangan pernah lelah memperbaiki kualitas diri melalui ilmu serta pelatihan yang tepat. Insyaallah, semua akan indah pada waktunya. Sebab, Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, sebelum mereka berusaha mengubah keadaan diri mereka sendiri."