09 Juni 2026
Nasional

Perkuat Ketahanan Pangan, Bank Indonesia dan IPB University Luncurkan Program Ekosistem Beras Berbasis Pesantren

Foto : Panen perdana di sawah Demontrasi Farm milik Dayah Ummul Ayman | LIPUTAN GAMPONG NEWS

LIPUTANGAMPONGNEWS.ID Hamparan sawah seluas 80 hektare milik Yayasan Ummul Ayman, Aceh, menjadi saksi keberhasilan panen perdana varietas padi unggul hasil inovasi IPB University.

Panen raya yang berlangsung di lahan seluas 0,8 hektare pada Senin (8/6/2026) tersebut menandai keberhasilan kolaborasi antara Bank Indonesia, IPB University, pesantren, pemerintah daerah, dan masyarakat dalam membangun kemandirian pangan berbasis pesantren.


Tim Direktorat Ekonomi dan Keuangan Syariah (DEKS) Bank Indonesia bersama Pusat Studi Bisnis dan Ekonomi Syariah (CI-BEST) IPB University hadir langsung menyaksikan hasil demonstrasi budidaya varietas IPB 13S dan IPB 15S di lahan milik Dayah Ummul Ayman yang siap panen.

Kegiatan itu merupakan bagian dari Program Kemandirian Ekonomi Pesantren Berbasis Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) komoditas beras. Program tersebut dikembangkan sebagai model penguatan ketahanan pangan sekaligus upaya pengendalian inflasi dari tingkat komunitas.

Acara seremonial program dan panen perdana turut dihadiri Sekretaris Daerah Pidie Jaya, Dr. Munawar Ibrahim, S.Kp., MPH, jajaran Pemerintah Kabupaten Pidie Jaya, perwakilan Baitul Mal Aceh, kelompok tani, alumni IPB, serta sejumlah pemangku kepentingan lainnya.Produktivitas Tinggi dan Tahan Kekeringan
Hasil panen menunjukkan capaian yang menggembirakan. Varietas IPB 13S dan IPB 15S mampu menghasilkan rata-rata 8,5 ton gabah per hektare.

Bahkan, varietas IPB 13S memiliki potensi produksi hingga 11 ton per hektare berdasarkan hasil uji coba sebelumnya, dengan kebutuhan pupuk dan air yang lebih efisien serta memiliki daya tahan terhadap kondisi kekeringan.

Perwakilan CI-BEST IPB University, Dr. Ahmad Junaidi, yang juga ahli Padi Indonesia mengatakan program tersebut merupakan bagian dari upaya memperkuat peran pesantren sebagai pusat pemberdayaan ekonomi masyarakat sekaligus penggerak ekonomi lokal yang berkelanjutan.

Menurutnya, varietas unggul yang diperkenalkan dirancang untuk menjawab berbagai tantangan sektor pertanian, termasuk dampak perubahan iklim dan bencana alam yang kerap memengaruhi produksi pangan.

“IPB 13S merupakan varietas cerdas iklim yang memiliki produktivitas tinggi, lebih hemat penggunaan pupuk dan air, serta mampu beradaptasi terhadap kondisi kekeringan,” ujarnya.

Selain introduksi varietas unggul, program ini juga menerapkan teknologi bioimunisasi tanaman dan pendampingan budidaya modern. IPB University turut memperkenalkan teknologi Automatic Weather Station (AWS) yang memungkinkan petani memantau kondisi cuaca secara real time melalui telepon genggam sehingga lebih siap menghadapi risiko cuaca ekstrem, serangan hama, maupun penyakit tanaman.

Dukungan Bank Indonesia tidak hanya pada aspek budidaya. Dalam pengembangan ekosistem bisnis beras pesantren, BI juga membantu penyediaan Rice Milling Unit (RMU) berkapasitas 1,5 ton per jam guna memperkuat rantai usaha dari hulu hingga hilir.

Perwakilan Bank Indonesia, Yason Taufik Akbar, M.Sc., mengatakan penguatan sektor pangan, khususnya komoditas beras, merupakan bagian dari upaya menjaga stabilitas inflasi sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

“Melalui program ini, kami tidak hanya mendorong peningkatan produksi, tetapi juga memperkuat tata niaga, kelembagaan, dan jejaring usaha pesantren agar tercipta model bisnis yang berkelanjutan dan dapat direplikasi di berbagai daerah,” katanya.

Program Kemandirian Ekonomi Pesantren Berbasis GNPIP telah dikembangkan Bank Indonesia bersama IPB University sejak 2024 dan kini diimplementasikan di sejumlah pesantren mitra baik di Provinsi Aceh, Jawa Barat, dan Jawa Timur.

Program tersebut mencakup penguatan budidaya, pascapanen, hilirisasi produk, pengembangan kelembagaan usaha, hingga perluasan akses pasar dan pembiayaan.
Dayah Ummul Ayman Kelola 80 Hektare Sawah.

Pimpinan Dayah Ummul Ayman III, Tgk. Abdul Malik, M.Ag., putra Tgk. H. Nuruzzahri Yahya (Waled Nu), menuturkan bahwa kerja sama dengan Bank Indonesia telah terjalin sejak 2016 melalui program budidaya ikan air tawar.

Kemitraan tersebut terus berkembang, termasuk melalui pembangunan kilang padi Minna Lana yang mulai beroperasi pada 2023. Sejak 2024, pengembangan ekonomi pesantren diperluas dengan pembangunan ekosistem beras terpadu yang mencakup penyediaan benih unggul, persemaian, penanaman, perawatan, hingga panen yang didampingi langsung oleh tim IPB University.

Hasil panen kemudian diolah di RMU milik pesantren sebelum dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi para santri dan tenaga pengajar.

Saat ini, Dayah Ummul Ayman mengelola sekitar 80 hektare lahan sawah yang digarap oleh masyarakat kurang mampu bersama para guru pesantren. Model usaha tersebut tidak hanya menopang kebutuhan pangan internal pesantren yang mencapai sekitar satu ton beras per hari, tetapi juga membuka peluang pemberdayaan ekonomi bagi masyarakat sekitar.

Simbol Kebangkitan Pertanian Pascabanjir
Sementara itu, Sekretaris Daerah Pidie Jaya, Dr. Munawar Ibrahim, menyambut baik berbagai inovasi pertanian yang diperkenalkan melalui program tersebut. Ia menilai keberhasilan demonstrasi budidaya varietas unggul IPB menjadi bukti bahwa hasil riset dan inovasi mampu meningkatkan produktivitas lahan sekaligus mendukung stabilitas pasokan pangan daerah.

“Panen raya ini menjadi simbol kebangkitan sektor pertanian Pidie Jaya pascabanjir. Inovasi dan kolaborasi seperti ini sangat penting untuk memperkuat ketahanan pangan dan meningkatkan kesejahteraan petani,” ujarnya.

Munawar menegaskan, sinergi antara pemerintah, akademisi, lembaga keuangan, pesantren, dan masyarakat menjadi kunci dalam membangun ketahanan pangan yang berkelanjutan.

“Melalui sinergi lintas sektor ini, pesantren tidak lagi hanya berfungsi sebagai pusat pendidikan keagamaan, tetapi juga tumbuh menjadi motor penggerak ekonomi masyarakat yang berkontribusi terhadap ketahanan pangan dan pengendalian inflasi nasional,” pungkasnya. (*)