LIPUTANGAMPONGNEWS.ID - Empat puluh sembilan hari pasca banjir bandang yang melanda Kabupaten Pidie Jaya, Aceh pada 26 November 2025 silam, kondisi Daerah Aliran Sungai (DAS) Krueng Meureudu di Gampong Blang Awe, Kecamatan Meureudu, masih menunjukkan kerusakan serius. Pantauan di lapangan memperlihatkan badan sungai melebar drastis ke kiri dan kanan, nyaris tiga kali lipat dibandingkan kondisi normal sebelumnya, dengan alur sungai yang berubah dan belum kembali terkendali.
Banjir bandang tersebut mengakibatkan puluhan rumah warga Blang Awe hancur total dan tergerus air bah hingga menyisakan hamparan batu, pasir, dan lumpur. Permukiman warga itu, kini berada sangat dekat dengan sungai yang baru tergerus, meningkatkan risiko banjir susulan jika terjadi hujan dengan intensitas sedang hingga tinggi.
Warga Gampong Blang Awe mengaku trauma dan terus diliputi kecemasan setiap kali hujan turun. Mereka menilai perubahan drastis bentang sungai menjadi ancaman nyata. “Dulu sungainya tak selebar ini, sekarang melebar ke mana-mana. Kami takut kalau hujan besar datang lagi,” ujar salah seorang warga setempat.
Upaya pemulihan sebenarnya telah mulai dilakukan. Sejumlah alat berat milik Balai Wilayah Sungai (BWS) terlihat melakukan perbaikan dan penataan di sisi sungai kawasan Blang Awe. Aktivitas tersebut meliputi perataan material banjir dan penguatan sementara di beberapa titik kritis bantaran sungai.
Namun, hingga memasuki hari ke-49 pasca bencana banjir, hasil dari upaya tersebut dinilai belum terlihat maksimal. Normalisasi sungai belum menyeluruh, sedimen masih menumpuk, dan pelebaran alur sungai masih terjadi di banyak titik. Kondisi ini memunculkan kekhawatiran bahwa langkah pemulihan yang ada belum sebanding dengan tingkat kerusakan yang ditimbulkan banjir bandang.
Miswar, pemerhati lingkungan menilai pemulihan DAS Krueng Meureudu harus dilakukan secara komprehensif, bukan parsial. Selain pengerukan sedimen dan penguatan tebing di hilir, diperlukan penanganan serius di wilayah hulu untuk menahan laju material banjir. Tanpa itu, perbaikan di satu titik berpotensi rusak kembali saat debit air meningkat.
Menurut Miswar, pemulihan pasca bencana banjir di Pidie Jaya tidak cukup hanya bersifat darurat. Tanpa penanganan DAS yang menyeluruh dan berkelanjutan, ancaman banjir bandang akan terus membayangi warga di sepanjang Krueng Meureudu, dan tragedi serupa berisiko kembali terulang. (**)






