Kemuliaan Guru dari Masa ke Masa: Kesadaran yang Harus Dipegang Wali Santri dan Siswa
Oleh. : Dr. Tgk. Mahdir Muhammad, MA. Guru Senior Dayah Mahasiswa Ummul Ayman III
OPINI - Dalam sejarah panjang peradaban, guru selalu menempati posisi yang mulia dan terhormat. Para ulama terdahulu menyebut guru sebagai waratsatul anbiya, pewaris para nabi yang mewariskan ilmu, akhlak, dan cahaya petunjuk kepada umat manusia. Pada masa klasik, masyarakat menempatkan guru di posisi yang lebih tinggi daripada gelar atau kekayaan, sebab dari tangan merekalah lahir para pemimpin, ilmuwan, dan pembawa kemajuan. Kemuliaan ini bukan hanya tradisi, melainkan prinsip yang tak lekang oleh waktu.
Perubahan zaman, kemajuan teknologi, dan perkembangan sosial tidak pernah mengurangi nilai guru. Justru, tuntutan terhadap guru semakin besar. Mereka bukan hanya dituntut untuk mengajar, tetapi juga membimbing karakter, menjaga moralitas, dan memberikan keteladanan. Di tengah derasnya arus digital, guru menjadi benteng terakhir agar generasi muda tidak kehilangan arah. Namun kemuliaan ini sering tergerus oleh rutinitas dan kurangnya penghargaan yang seharusnya diberikan oleh semua pihak.
Wali santri dan siswa perlu memahami bahwa guru bukan sekadar penyampai materi pelajaran. Mereka adalah pendidik jiwa, pembentuk akhlak, dan penjaga masa depan anak-anak. Terkadang, karena kesibukan orang tua, peran pendidikan sepenuhnya diserahkan kepada lembaga dan guru, tetapi penghargaan kepada guru justru berkurang. Kesadaran bahwa guru adalah mitra utama dalam mendidik anak merupakan kunci keberhasilan pendidikan. Tanpa sikap menghormati dan mendukung guru, proses pendidikan akan kehilangan ruhnya.
Di dayah dan pesantren, penghormatan kepada guru sejak dahulu menjadi tradisi kuat. Santri dididik untuk ta’zim kepada guru, memahami tiap ucapan mereka sebagai nasihat berharga, dan mengambil keberkahan dari keteladanan. Nilai ini seharusnya kembali ditegakkan di seluruh lembaga pendidikan modern. Ketika siswa menghormati guru, proses belajar menjadi lebih efektif, penuh keberkahan, dan melahirkan generasi yang cerdas sekaligus berakhlak.
Hari Guru bukan sekadar peringatan seremonial yang datang setahun sekali. Ia adalah momentum untuk menguatkan kesadaran kolektif bahwa guru membawa beban besar membina generasi masa depan. Para wali santri dan siswa harus menjadikan hari ini sebagai refleksi: sudahkah kita menghargai perjuangan guru? Sudahkah kita membantu meringankan tugas mereka, mendukung program pendidikan, dan menunjukkan penghormatan yang layak?
Di tengah tantangan besar dunia pendidikan, kemuliaan guru harus kembali ditegakkan bersama. Guru yang dihormati akan melahirkan murid yang beradab, dan murid yang beradab akan membawa kemajuan bagi keluarga, masyarakat, dan bangsa. Maka, sudah saatnya semua wali santri dan siswa menyadari: memuliakan guru adalah memuliakan masa depan santri dan siswa.






