26 Agustus 2026
Kisah

Di Balik Seragam Cokelat, Ada Hati yang Tak Pernah Lelah Berbagi, ini sosoknya

LIPUTANGAMPONGNEWS.IDPagi-pagi, ketika sebagian orang sibuk menghitung kebutuhan rumah tangga dan menata pengeluaran untuk esok hari, Aipda Jonni Rahmad justru menyisihkan sebagian penghasilannya untuk orang lain. Bukan karena ia hidup berlebihan. Ia hanya percaya, ada rezeki yang akan terasa lebih bermakna ketika sebagian darinya bisa membuat hidup orang lain sedikit lebih ringan.


Bagi Jonni, seragam cokelat bukan sekadar tanda bahwa dirinya seorang polisi. Dibalik seragam itu ada tugas menjaga keamanan, ada masyarakat yang membutuhkan kehadiran, perhatian, bahkan pertolongan. Karena itu, ketika melihat warga hidup dalam keterbatasan, ia berusaha tidak hanya menjadi orang yang menyaksikan, tetapi juga mengambil bagian.

Saat ini Jonni bertugas sebagai Ps. Kasium Polsek Panteraja, Polres Pidie Jaya, Polda Aceh. Ia mulai mengabdi di Korps Bhayangkara setelah lulus Diktukba Polri pada 2005. Selama perjalanan pengabdiannya, berbagai penghargaan pernah diterima, termasuk Satyalancana Pengabdian 8 Tahun pada 2013 dan Satyalancana Pengabdian 16 Tahun pada 2021. Sejumlah penghargaan dari pimpinan Polri juga pernah diberikan kepadanya.

Tetapi Jonni tidak menjadikan penghargaan sebagai ukuran pengabdian. Baginya, ukuran yang sebenarnya justru terlihat dari hal-hal kecil yang sering luput dari perhatian: seorang anak yang bisa kembali tersenyum, keluarga yang tidak lagi tidur di rumah yang nyaris roboh, atau seorang pasien yang akhirnya memiliki kesempatan untuk mendapatkan pengobatan.

Ketika banjir melanda sejumlah wilayah Aceh pada akhir 2025, misalnya, Jonni tidak datang hanya membawa bantuan kebutuhan sehari-hari. Ia membawa Iqra dan Al-Qur'an untuk anak-anak korban banjir. Di tengah rumah-rumah yang terendam dan keluarga yang kehilangan banyak hal, ia ingin anak-anak tetap memiliki ruang untuk belajar dan mengaji.

Menjelang Idulfitri, sebagian penghasilannya kembali ia sisihkan untuk membeli pakaian Lebaran bagi anak-anak yatim piatu. Ketika mengetahui seorang anak menderita sakit dan membutuhkan pengobatan, ia ikut membantu. Dan ketika uang pribadi tidak lagi cukup untuk menutupi kebutuhan kemanusiaan, Jonni membuka donasi dan mengajak orang lain bergandengan tangan.

Namun, kisah paling menarik dari kepedulian Jonni mungkin justru berada di balik rumah-rumah sederhana yang dibangunnys. Dari sebagian gajinya dan para dermawan ia telah membangun empat rumah dan merehabilitasi tiga rumah warga yang hidup dalam kemiskinan. Tidak ada panggung, tidak ada seremoni besar. Hanya dinding, atap, pintu, dan keluarga yang akhirnya memiliki tempat tinggal lebih layak.

“Semua yang saya lakukan bukan untuk mencari popularitas atau dikenal banyak orang. Ini murni karena keinginan untuk membantu sesama. Sebagai anggota Polri, saya merasa wajib untuk hadir dan memberikan manfaat bagi masyarakat, terutama ketika ada saudara-saudara kita yang membutuhkan,” kata Jonni saat diwawancarai media ini, Selasa, 25 Agustus 2026.

Ia sadar, apa yang dilakukannya tidak akan mengubah dunia dalam sekejap. Satu rumah tidak akan menghapus kemiskinan. Satu paket pakaian tidak akan menyelesaikan seluruh persoalan hidup. Satu donasi pun tidak selalu cukup untuk mengakhiri penderitaan. Tetapi bagi orang yang menerimanya, bantuan kecil itu bisa menjadi alasan untuk kembali percaya bahwa masih ada yang peduli.

Di situlah Jonni memilih menempatkan dirinya. Bukan sebagai polisi yang hanya hadir ketika terjadi pelanggaran hukum, tetapi sebagai manusia yang berusaha hadir ketika sesamanya sedang membutuhkan. Gajinya mungkin tidak luar biasa besar, tetapi sebagian darinya ia ubah menjadi rumah. Sebagian lainnya menjadi pakaian, biaya pengobatan, kitab untuk anak-anak, dan bantuan bagi keluarga yang kesulitan.

Barangkali, pengabdian memang tidak selalu terdengar melalui suara sirene atau terlihat dalam operasi kepolisian. Kadang ia hadir dalam bentuk yang jauh lebih sederhana: uang yang disisihkan diam-diam, tangan yang membantu mengangkat beban, atau ajakan berdonasi kepada orang lain.
Dan dari semua itu, Jonni seolah ingin menyampaikan satu pesan sederhana: seragam boleh menjadi identitas seorang polisi, tetapi kepedulianlah yang membuat pengabdian benar-benar berarti. (**)