12 Desember 2025
Daerah
BANJIR PIDIE JAYA

Demi Setetes BBM, Luka Korban Banjir Pidie Jaya Menganga di Tengah Antrean Mengular di SPBU

LIPUTANGAMPONGNEWS.ID - Di tengah lumpur yang belum mengering di Pidie Jaya, rakyat yang selamat dari banjir kini harus bertempur dengan kelangkaan BBM yang terasa tak masuk akal. Antrean panjang di SPBU menjadi pemandangan harian, jerigen tergenggam, wajah kusut, dan keluhan yang tak kunjung digubris. “Katanya stok cukup, tapi kenapa kami dibiarkan berdiri berjam-jam?” tanya seorang korban banjir dengan suara gemetar, saat awak media menjumpainya di tengah antrean kendaraan roda dua yang mengular.

Lebih ironis lagi, ada SPBU yang beralasan BBM sedang kosong, ada pula yang hanya membuka pelayanan pada jam-jam tertentu tanpa penjelasan yang masuk akal. Warga yang bawa jirigen pun dibatasi hanya dua liter per orang, jumlah yang nyaris nihil di tengah listrik yang hidup-mati. Razi berkeliling kecamatan demi setetes bbm, mulai dari bandar baru hingga bandar dua membawa harapan pada jerigen tuanya, mencari bahan bakar demi menyalakan genset agar keluarganya tak kembali gelap gulita. “Banjir sudah merampas rumah kami, masa negara juga mau merampas cahaya?” keluhnya.

Sementara itu, Bang Wahab berdiri berjam-jam di antrean demi BBM untuk mesin robin, satu-satunya alat membersihkan lumpur yang menutupi lantai rumahnya sejak tujuh hari lalu. Kemejanya masih beraroma air bah, matanya memendam lelah yang tak bisa lagi disembunyikan. “Kami ingin bangkit, tapi seperti sengaja dipatahkan,” katanya singkat. Kalimat itu lebih tajam dari pisau, sebab ia menyasar jantung persoalan: negara hadir, namun setengah hati untuk korban banjir Pidie Jaya.

Di jalanan, kontradiksi menampar logika. Pertamina dan pemerintah Aceh bersuara lantang dari balik pemberitaan media, katanya stok BBM Aceh aman, namun di lapangan, antrean menjulur hingga dua kilometer seperti di SPBU Kecamatan Meurah Dua. Ita, seorang ibu rumah tangga, menyodorkan pertanyaan yang tak terjawab: “Kalau stok normal, kenapa rakyat harus disiksa dengan antrean panjang dan pembatasan ketat?” Warga bahkan menyebut pasokan datang tiap malam, lalu mengapa esok harinya rakyat kembali mengemis setetes BBM?

Di sinilah kecurigaan mengental. Patut diduga ada tangan-tangan kotor yang menari di atas penderitaan korban banjir. Dugaan permainan antara oknum SPBU dan pedagang eceran semakin kuat, saat BBM tiba-tiba mengalir ke pasar gelap dan dijual ulang dengan harga mencekik hingga Rp40 ribu per liter. Di tengah krisis, korban dipaksa memilih,  bertahan di antrean sampai tumbang, atau membeli mahal demi terus hidup.

Yang lebih mencurigakan, jalur darat dari arah timur Aceh seminggu terakhir terputus, artinya kendaraan yang lalu-lalang jauh berkurang, banyak mobil dan motor rusak dihantam banjir. Secara logika, konsumsi BBM seharusnya menurun. Lalu mengapa BBM justru terasa makin langka? Ke mana perginya pasokan yang “katanya aman”? Jika persediaan normal, mengapa rakyat diperlakukan seperti pengemis di negeri sendiri?

Pidie Jaya hari ini bukan hanya diremukkan oleh banjir, tapi juga oleh krisis nurani. Ketika rakyat membutuhkan negara, yang hadir justru antrean, pembatasan, dan aroma permainan kotor. BBM urat nadi pemulihan pasca banjir, kini tercekik oleh keuntungan segelintir orang. Jika ini terus dibiarkan, maka yang tenggelam bukan hanya kampung-kampung di Pidie Jaya, tetapi juga kepercayaan warga pada keadilan dan negara yang seharusnya melindungi. (TS)