Banjir dan Longsor Melanda Sibolga–Tapteng, 9 Warga Meninggal dan Akses Terputus Total
LIPUTANGAMPONGNEWS.ID -
Bencana banjir dan tanah longsor yang menerjang Kota Sibolga dan Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng), Selasa (25/11/2025), menyebabkan jatuhnya korban jiwa dan melumpuhkan seluruh akses transportasi. Berdasarkan laporan awal Basarnas hingga pukul 19.00 WIB, tercatat 9 orang meninggal dunia, 4 warga masih dalam pencarian, dan 3 lainnya mengalami luka-luka. Tim SAR menyebut pendataan masih berlangsung di tengah kondisi lapangan yang sangat dinamis.
Sejumlah wilayah dilaporkan terendam, terutama Kecamatan Badiri, Pinangsori, Lumut, Sarudik, Tukka, Pandan, Tapian Nauli, dan Kolang. Selain banjir, longsor juga terjadi di sedikitnya tujuh titik pada kawasan Badiri, Sibabangun, Lumut, Sarudik, dan Tapian Nauli. Situasi ini memperburuk kondisi warga yang sejak dini hari mulai mengungsi karena luapan air yang terus meningkat.
Peristiwa ini berawal pada pukul 02.00 WIB ketika Pos SAR Sibolga menerima laporan warga terkait evakuasi seorang ibu yang sakit, dan proses penyelamatan berhasil dilakukan pada pukul 04.00 WIB. Namun, intensitas hujan yang terus meningkat sejak pukul 05.00 WIB membuat banjir meluas ke berbagai kecamatan. Kondisi semakin parah ketika pintu air Bendungan PLTA Sipan Sipahoras dibuka pada pukul 10.00 WIB akibat debit muka air yang mencapai batas ekstrem.
Menjelang sore, hujan tak kunjung mereda dan tingkat risiko di lapangan meningkat drastis. Pada pukul 17.00 WIB, sejumlah titik longsor mulai terkonfirmasi dan menelan korban jiwa. Tim SAR gabungan yang terdiri dari Pos SAR Sibolga, ABK KN SAR Nakula, BPBD, Polres, Kodim, Polairud, serta unsur terkait lainnya terus melakukan penyisiran meski menghadapi kendala besar di lapangan.
Upaya evakuasi dan pencarian sempat mengalami hambatan berat. Tim Kansar Nias tidak dapat diberangkatkan akibat gelombang tinggi, sementara personel Kansar Medan tertahan karena akses darat terputus dan banjir mencapai sepinggang orang dewasa. Di sisi lain, listrik dan jaringan komunikasi terputus hampir di seluruh wilayah terdampak, membuat koordinasi penanganan darurat berlangsung secara terbatas.
Hingga malam, cuaca masih didominasi hujan deras dan potensi banjir susulan serta longsor tambahan dinilai sangat tinggi. Basarnas memastikan seluruh kekuatan dan peralatan SAR telah dikerahkan, mulai dari rescue car, drone thermal, hingga perlengkapan mountaineering. Tim di lapangan terus berjibaku, sementara pemerintah pusat diminta memberikan arahan lebih lanjut untuk mempercepat penanganan darurat di Sibolga dan Tapanuli Tengah. (Adel)






