Spirit Time PEMAS Pidie Pikat Ratusan Gen Z, Nikah Muda Jadi Bahasan
LIPUTANGAMPONGNEWS.ID - Ratusan generasi muda (Gen Z) pasangan pranikah, hingga pasangan suami istri antusias mengikuti kegiatan Spirit Time bertema “Nikah Muda: Membangun Fondasi Sebelum Resepsi” yang digelar Pemuda Masjid Agung Al-Falah Sigli (PEMAS) di Aula Deha Cafe, Sigli, Sabtu 6 Juni 2026.
Kegiatan yang digagas PEMAS Al Falah Sigli ini menghadirkan dua narasumber utama. Pertama, Konselor Aceh Bunda Hetti Zuliani, Ph.D, CHt, CI yang juga Dosen Konseling Universitas Syiah Kuala Banda Aceh.
Kedua, Ulama Muda Aceh sekaligus intelektual Ustadz Dr. Amri Fatmi Anzis, Lc., M.A. Keduanya memberi pembekalan soal kesiapan mental, spiritual, dan emosional dalam membangun rumah tangga.
Ketua PEMAS Pidie, Ustaz Mufadhal Fuzzari, S.Sos., mengatakan bahwa kegiatan ini bertujuan memberi pemahaman kepada generasi muda tentang pentingnya membangun fondasi pernikahan yang kuat sebelum berumah tangga.
“Kami berharap kegiatan ini bisa menjadi bekal bagi para remaja dan pasangan muda untuk mampu membangun keluarga yang harmonis, sakinah, dan siap menghadapi berbagai tantangan kehidupan. Apalagi dengan dinamika generasi muda saat ini yang banyak tantangannya,” ujarnya, Senin (08/06/2026).
Menurut Mufadhal, tingginya antusias peserta menunjukkan isu pernikahan dan ketahanan keluarga menjadi hal urgen di kalangan generasi muda. Ia menilai masjid dan organisasi kepemudaan harus berperan strategis menghadirkan ruang edukasi positif.
“Kami sengaja mengundang langsung para pakar yang kebetulan keduanya warga Pidie. Ini kesempatan emas untuk menghadirkan mereka agar generasi muda Pidie siap secara psikis, mental, dan spiritual,” tambahnya.
“Kolaborasi antara pengetahuan agama dan psikologi InsyaAllah akan memudahkan pasangan dalam membina dan menguatkan ketahanan keluarga, terutama bagi yang baru menikah,” sambung Mufadhal.
Dalam paparannya, Bunda Hetti Zuliani mengingatkan peserta agar tidak terburu-buru memutuskan menikah hanya karena faktor fisik, tekanan lingkungan, keinginan lepas dari orang tua, atau alasan ekonomi.
Menurutnya, kehidupan setelah pernikahan akan menghadirkan berbagai tantangan yang membutuhkan kesiapan mental dan spiritual yang kuat.
“Ketika ujian rumah tangga datang, keimanan, kedewasaan berpikir, dan kemampuan mengelola emosi menjadi kunci untuk tetap menjaga keutuhan keluarga,” jelasnya.
Sementara itu, Ustadz Amri Fatmi menegaskan, keputusan menikah harus diawali dengan kesiapan diri, bukan sekadar mengikuti harapan atau standar orang lain.
Menurutnya, banyak persoalan rumah tangga muncul karena pasangan membangun ekspektasi yang tidak realistis.
Katanya lagi, calon pengantin perlu membekali diri dengan pemahaman agama, ilmu keluarga, dan kematangan emosional.
“Prioritas utama dalam memilih pasangan adalah agama. Fondasi keagamaan yang kuat akan menjadi penopang rumah tangga ketika menghadapi berbagai ujian kehidupan,” ujarnya.
Melalui kegiatan tersebut, para peserta diajak memahami bahwa pernikahan bukan sekadar seremoni atau resepsi, melainkan perjalanan panjang yang membutuhkan kesiapan, komitmen, dan tanggung jawab untuk membangun keluarga yang harmonis dan berkelanjutan.(AA)






