Netti Herawati, Jurnalis Berhijab yang Berani Menguak Kejahatan Scam di Kamboja
LIPUTANGAMPONGNEWS.ID - Bayangkan, Bang, sampai Phnom Penh, Kamboja, demi nyelidiki nasib WNI yang terjebak scam online… sementara Kedutaan Indonesia di sana agak cuek dan lambat responsnya. Kopi di meja dingin, Netti Herawati—perempuan berhijab tangguh ini—tetap fokus, mencatat satu per satu fakta di lapangan. Kalau jurnalistik itu olimpiade, Netti sudah pegang medali emasnya, lengkap dengan kamera, laptop, dan nyali ekstra besar.
Netti Herawati SE, lebih dari 26 tahun jadi jurnalis investigasi, punya gelar CME 2023, Pararegal ME, C.MK, dan MBA. Riwayatnya panjang: Wakil Ketua III DPP SBNI, Mantan Kepala Pengawas Kebijakan Publik Bakornas, Ketua SPRI & WHN Provinsi Bali, aktivis perempuan dan anak, juga suara empati dalam isu Palestina. Netti terkenal karena prinsipnya jelas: “Berani karena benar, bukan karena dibayar.” Rekayasa kasus? Ditolak. Keterbukaan anggaran publik? Non-negotiable. Sementara wartawan lain mikirin press release, Netti mikirin cara nyelundup info dari sindikat scam sambil tetap sopan ke keamanan.
Awal 2026, Netti terjun langsung ke Kamboja. Faktanya bikin kaget: 5.264 WNI melapor terjebak sindikat penipuan daring. Pemerintah Kamboja memberi keringanan denda bagi 2.884 WNI overstay, tapi sampai Maret 2026 cuma 1.252 pulang—termasuk 743 yang dijadwalkan Februari–Maret tapi tertunda verifikasi TPPO. Sisanya? Ribuan WNI menunggu, ada yang disekap, dipukul, bahkan tidur di tempat umum karena tak ada dana. Banyak bukan korban TPPO, tapi birokrasi bikin mereka “camping gratis versi Kamboja.” Bayangkan, Bang, orang mau pulang tapi harus tidur di trotoar Phnom Penh sambil berharap ada yang peduli.
Lewat surat terbuka ke DPR RI Komisi III pada 7 Maret 2026, Netti menuntut: panggil Menteri Luar Negeri dan pimpinan KBRI Phnom Penh, percepat verifikasi Polri & Imigrasi, bentuk satgas anti-perekrut ilegal, dan awasi pungli di penjara Kamboja. Surat terbuka ini diibaratkan Netti seperti kopi pahit: bikin melek dan bangunin negara dari tidur siang birokrasi.
Di lapangan, Netti harus jeli. Akses media dibatasi, keluarga WNI gelisah, korban tak ada dana. Meski begitu, ia tetap santun dan inovatif, menekankan jurnalisme transparan. Humor muncul di sela kerja: “Bang, kita lagi investigasi atau main petak umpet sama pejabat?” Kadang komentar kecil itu bikin tim tetap semangat menghadapi birokrasi lambat dan sindikat galak.
Investigasi ini akhirnya memicu sorotan media, sebagian WNI mulai dipulangkan, dan satgas anti-perekrut diusulkan. Netti menegaskan: jurnalisme bukan sekadar berita. Itu suara rakyat, integritas, dan keberanian. Kalau ia bikin stand-up comedy, judulnya pasti: “KBRI, Scammer, dan Netti yang Nggak Bisa Diam.”
Bang, salut sama perempuan tangguh ini. Sambil menyeruput kopi, kita belajar: berani bukan berarti tanpa takut, tapi berani karena benar. Di tengah dunia yang kadang lambat dan penuh tipu daya, ada Netti—menjadi bukti bahwa keberanian, ketulusan, dan humor bisa berjalan bersamaan, meski di Phnom Penh sekalipun.
(IAB/DE)









