18 Januari 2026
Kisah
BANJIR ACEH

Kisah dr. Savia di Tengah Banjir Pidie Jaya: Anak yang Tak Bisa Pulang, Dokter yang Tak Boleh Pergi

Foto : dr. Safia (Tengah) Bersama TiM KUBi | LIPUTAN GAMPONG NEWS

LIPUTANGAMPONGNEWS.ID -
Rabu sore, 26 November 2025, banjir bandang datang tanpa ampun ke Kabupaten Pidie Jaya. Air meluap, merendam rumah warga, memutus jalan, dan menenggelamkan rasa aman. Di tengah kepanikan itu, Klinik Utama Berkah Ibu tetap membuka pintu. Saat dunia di luar berlari menyelamatkan diri, klinik kecil itu memilih menjadi tempat berlindung terakhir bagi mereka yang tak lagi punya pilihan.

Korban berdatangan tanpa henti. Lansia dengan tubuh menggigil, bayi yang menangis kehabisan suara, ibu-ibu yang memeluk anaknya sambil menahan gemetar. Pertanyaan yang sama berulang kali terdengar, “Kami aman, dok?” Di ruang sempit itu, para tenaga kesehatan menenangkan orang lain sambil menyimpan ketakutan sendiri. Mereka mulai menyadari, air yang terus naik telah memutus jalan pulang.

Di antara mereka ada dr. Savia. Wajahnya pucat, matanya sembab, tetapi tangannya tak berhenti bekerja. Ia memeriksa pasien satu per satu, membisikkan kata-kata yang sederhana namun menyelamatkan banyak jiwa: “Tenang, kami ada di sini.” Ia bukan tidak takut. Ia hanya memilih menunda rasa takutnya demi orang lain.

Ketika komunikasi hampir terputus, sebuah kabar menghantam hatinya. Dari liputangampongnews.id, dr. Savia membaca berita bahwa gampong Deah Pangwa telah terendam banjir yang ketinggiannya mencapai 2 meter. Di sanalah orang tuanya yang telah renta tinggal, tanpa kabar, tanpa kepastian. Ia terdiam lama di sudut klinik, lalu menangis tanpa suara. Tidak ada yang lebih berat dari menjadi anak yang tak bisa pulang, dan dokter yang tak boleh pergi.

Fakhrurrazi, Navis, Dek Cut, dan Udin menyaksikan dilema itu dengan dada sesak. Mereka juga takut, juga rindu rumah, juga memikirkan keluarga masing-masing. Namun tidak satu pun pergi. Mereka saling menguatkan dengan tatapan dan tepukan bahu. Air mata jatuh diam-diam, lalu diseka cepat sebelum kembali melayani pasien.

Dimalam sebelum banjir besar meluluh lantakkan Pidie Jaya, sekitar Pukul 03.00 WIB, Razi dihubungi Yah Nu Kalak BPBD Pidie Jaya untuk dibawakan ambulance mengevakuasi korban, dengan mengenakan rompi BNPB  mencoba menerobos banjir menuju Meureudu. Melawan gelap, hujan, dan arus air dengan doa yang tak putus. Namun di depan Polsek Meurah Dua, langkah mereka terhenti. Jalur Banda Aceh–Medan terputus total oleh air yang semakin tinggi.

Upaya lain dicoba melalui rel kereta api, tetapi kembali terhenti di depan Bale Kupi. Semua akses tertutup. Dengan dada berat dan mata basah, mereka kembali ke basecamp KUBI. Bukan karena menyerah, tetapi karena menyadari bahwa tempat paling dibutuhkan saat itu adalah kembali ke klinik, tempat orang-orang menunggu dengan harapan yang rapuh.

Tiga hari tim KUBI terjebak di Klinik Utama Berkah Ibu. Tiga hari hidup di antara genangan air, keterbatasan, dan kecemasan tentang keluarga yang tak bisa dijangkau. Namun selama tiga hari itu pula, mereka membuktikan bahwa ketika tak ada jalan dan tak ada bantuan, nurani masih bisa menjadi penopang terakhir. Dan di Pidie Jaya, nurani itu bernama dr. Savia dan mereka yang memilih bertahan bersamanya. (**)