04 November 2026
Kisah

Dari Beuracan ke Negeri Belanda: Warisan Pendidikan dan Jejak Kebangsawanan

LIPUTANGAMPONGNEWS.ID - Dibalik sosok Teuku Yusmadi Arkasih, SE, yang akrab disapa Ampon Madi, Anggota Group Keluarga Ulee Balang Meureudu (KUB MRD) dan Aparatur Sipil Negara (ASN) Pemerintah Kabupaten Pidie Jaya, tersimpan sebuah kisah keluarga yang menarik untuk dicatat dalam lembaran sejarah lokal Aceh.

Ampon Madi merupakan putra dari Teuku Burhan bin Teuku Muluk Beuracan, Meureudu. Sebuah garis keturunan yang tidak hanya menyimpan kisah kebangsawanan, tetapi juga memiliki jejak sejarah pendidikan yang istimewa pada zamannya.

Pada masa pemerintahan kolonial Belanda, kesempatan mengenyam pendidikan di sekolah Belanda bukanlah sesuatu yang mudah diperoleh oleh masyarakat pribumi. Akses pendidikan ketika itu sangat terbatas dan dalam banyak hal berkaitan dengan kedudukan sosial serta struktur pemerintahan tradisional.

Dalam catatan sejarah keluarga yang diwariskan, ayahanda Pon Mahdi, yakni Teuku Burhan Muluk, dikenal sebagai salah seorang putra Beuracan yang memperoleh kesempatan menempuh pendidikan di sekolah Belanda di Banda Aceh.

Kesempatan tersebut tidak terlepas dari kedudukan ayahnya, Ampon Muluk, yang dikenal sebagai Ulee Balang Cut Beuracan.

Bahkan, menurut penuturan keluarga, pada masa itu Teuku Burhan Muluk merupakan satu-satunya putra Beuracan yang memperoleh kesempatan pendidikan tersebut.

Jejak pendidikan itu menjadi kebanggaan tersendiri bagi keluarga. Teuku Burhan Muluk dikenal mampu berbahasa Belanda, sebuah kemampuan yang pada masa tersebut menjadi salah satu penanda pengalaman pendidikan kolonial.

Kisah pendidikan keluarga Beuracan memiliki catatan yang menarik apabila disandingkan dengan sejarah keluarga Ulee Balang Cut Pangwa.

Di Pangwa, terdapat Teuku Husen, putra Teuku Muhammad Ali, yang juga memperoleh kesempatan mengenyam pendidikan sekolah Belanda.

Teuku Husen Pangwa dan Teuku Burhan Muluk Beuracan sama-sama dikenal memiliki kemampuan berbahasa Belanda.

Dua nama dari dua wilayah yang berbeda ini menjadi bagian dari ingatan sejarah tentang generasi bangsawan Aceh yang pernah bersentuhan langsung dengan sistem pendidikan kolonial.

Menariknya, sejarah pendidikan keluarga ini tidak berhenti pada Teuku Burhan Muluk. Ayahanda Teuku Burhan, yakni Ampon Muluk, disebut sebut pernah menempuh pendidikan hingga ke Negeri Belanda.

Sebuah perjalanan pendidikan yang tentu memiliki arti tersendiri dalam konteks sejarah keluarga bangsawan Aceh pada masa itu.

Dari Beuracan menuju Banda Aceh, bahkan hingga Negeri Belanda, tersimpan mata rantai kisah tentang pendidikan, kedudukan, dan perubahan zaman.

Kini, Teuku Yusmadi atau Ampon Madi, hadir sebagai generasi penerus dari garis keluarga tersebut.

Sebagai ASN Pemerintah Kabupaten Pidie Jaya dan bagian dari Group KUB Meureudu, Ampon Madi merupakan salah satu representasi generasi masa kini yang membawa nama keluarga dengan sejarah panjang di Beuracan, Meureudu, Pidie Jaya. 

Kisah Teuku Burhan Muluk, Ampon Muluk, serta hubungan sejarah dengan keluarga Ulee Balang Cut Pangwa bukan sekadar cerita tentang silsilah keluarga.

Lebih dari itu, kisah ini merupakan bagian dari mozaik sejarah sosial Aceh tentang bangsawan, pendidikan, hubungan antar kawasan, dan perjalanan generasi dari masa kolonial hingga masa modern.

Sebab sejarah keluarga bukan hanya tentang siapa leluhur kita, tetapi juga tentang jejak apa yang mereka tinggalkan untuk dikenang oleh generasi sesudahnya.

Beuracan memiliki kisah, keluarga memiliki sejarah. Dan setiap generasi mempunyai tanggung jawab untuk merawat ingatan itu. (**) 

Catatan sejarah: Narasi ini disusun berdasarkan informasi dan penuturan keluarga.