29 November 2025
News
BANJIR PIDIE JAYA

Banjir Pidie Jaya: Kami Belum Makan Dua Hari, Pengungsi di Loteng Sekolah Minta SAR Segera Datang

Foto : Cuplikan Rekaman Video Daerah PANTE GEULIMA, Meureudu, Pidie Jaya | LIPUTAN GAMPONG NEWS

LIPUTANGAMPONGNEWS.ID -Di tengah banjir yang belum juga surut, puluhan warga Pidie Jaya masih bertahan dalam kondisi memprihatinkan. Informasi terbaru menyebutkan bahwa sekelompok warga, termasuk anak-anak SMP Putra, Ustaz Wandi beserta keluarga, Ustaz Juanda, Ustaz Makruf, dan beberapa warga lainnya, kini mengungsi di lantai dua gedung sebuah SD di Pante Geulima, Kecamatan Meureudu, Pidie Jaya. Mereka sudah berada di lokasi tersebut sejak awal banjir melanda dan tidak bisa turun karena arus air yang masih deras.

Tak jauh dari lokasi itu, sekelompok warga lain memilih bertahan di loteng rumah Ustaz Makmur. Di antara mereka terdapat para siswi SMP, keluarga Ustaz Makmur, dan sejumlah warga yang turut menyelamatkan diri. Loteng sempit yang biasanya hanya menjadi tempat penyimpanan barang, kini berubah menjadi ruang darurat untuk bertahan hidup di tengah bencana.

Namun kondisi pengungsi justru semakin mengkhawatirkan. Sudah dua hari mereka belum mendapatkan makanan sama sekali. Persediaan yang sempat dibawa saat air mulai naik telah habis, dan tidak ada akses bagi mereka untuk mencari bantuan karena area sekitar terkepung banjir. Situasi ini membuat para orang tua mulai panik, terlebih melihat anak-anak yang kehabisan tenaga dan lansia yang semakin lemah.

Air bersih pun tak tersedia. Para pengungsi tidak memiliki stok air minum dan terpaksa menahan dahaga, sementara bayi dan anak kecil mulai rewel karena kehausan. “Di sini ada bayi, anak-anak, dan lansia. Kami benar-benar tidak punya apa-apa lagi,” demikian informasi yang diteruskan lewat warga yang masih memiliki akses komunikasi. Kondisi ini dikhawatirkan memperburuk kesehatan para pengungsi jika tidak segera mendapat pertolongan.

Di tengah keterbatasan itu, para pengungsi berharap adanya respons cepat dari tim SAR atau relawan yang berada di wilayah sekitar. Mereka meminta agar bantuan logistik—terutama makanan siap saji dan air minum—segera dikirimkan ke titik-titik tempat mereka bertahan. Kondisi medan yang sulit membuat mereka tak bisa keluar, sehingga hanya dapat menunggu dari tempat tinggi sambil berharap pertolongan datang.

Seruan minta tolong ini kini menjadi perhatian warga sekitar. Situasi krisis yang menimpa anak-anak, bayi, dan lansia tersebut menegaskan bahwa penanganan darurat harus dipercepat. Para pengungsi berharap tangisan anak-anak yang menahan lapar dan suara warga yang kelelahan dapat segera dijawab dengan kedatangan tim penyelamat. (**)