Sarah Mane, Gampong Binaan Mawadah Warahmah dan Persoalan Air Bersih
LIPUTANGAMPONGNEWS.ID - Dari sejumlah gampong di kecamatan Meurah Dua Pidie Jaya, siapa sangka Gampong terpencil di ujung kabupaten Pidie Jaya, yaitu Gampong Sarah Mane, Kecamatan Meurah Dua, terpilih (ditunjuk langsung) oleh Provinsi Aceh, sebagai Gampong Mawadah Warahmah Binaan Provinsi Aceh. Hal itu diumumkan langsung kepada perangkat Gampong Sarah Mane, oleh TP PKK Kecamatan Meurah Dua, di aula kantor camat setempat, pada 15/06/2026.
Ketua TP PKK Kecamatan dan Kasi Pembedayaan masyarakat Kecamatan Meurah Dua, bersama Keuchik Gampong, para Tuha Peut, perangkat gampong, kader posyandu, tp PKK Gampong berserta anggota. Sama-sama sepakat memajukan Sarah Mane dari status desa tertinggal menjadi desa yang maju. Maju ekonominya dan maju syariatnya.
Dalam pertemuan tersebut, ketua TP PKK Kecamatan Meurah Dua, Ny.Zunaimar Iskandar, membahas berbagai program akan akan dilakukan dan dibina, Diantaranya, Kelompok Wanita Tani (KWT), Penghijauan dan Tanaman Bergizi di depan atau samping rumah warga, Taman Gizi di halaman posyandu, merupakan hal wajib untuk Gampong binaan. Pihak kecamatan meminta agar semua pihak, terutama perangkat gampong dan tuha Peut, harus kompak mendukung program tersebut agar bisa berjalan lancar, tutur Zunaimar.
Kita berharap kerjasama semua pihak, insyaallah Gampong Sarah Mane akan maju," kata Zunaimar.
"Sebagai binaan Gampong Mawadah Warahmah (Gammawar) di Pidie Jaya, Sarah Mane, dituntut harus jadi Gampong yang hijau, sehat dan bersih. Namun karena Gampong tersebut jauh dari pusat keramaian kota. Akses jalan juga masih banyak kendala. Tepatnya, di pusat pemukiman warga, bahkan jalanpun belum diaspal. Yaitu jalan yang menghubungkan ke Gampong tetangga, Lhok Sandeng," ujar Ny. Zunaimar Iskandar.
Sementara itu, Kepala Seksi (kasi) Pemberdayaan Masyarakat Gampong, Kecamatan Meurah Dua, Cut Salviani, mengungkapkan, bahwa Gampong Sarah Mane, merupakan salah satu dari dua Gampong yang tertinggal di Pidie Jaya.
"Saya tahu betul kondisi warga Sarah Mane, karena saya pernah menjabat sebagai Pejabat Keuchik di sana beberapa bulan. Warganya ramah-ramah dan mudah diajak bicara. Maka untuk membina Gampong Sarah Mane menjadi Gampong Mawadah Warahmah, akan mudah. Apalagi di Gampong tersebut ada Dayah, ada Mesjid, ada aktivitas mengaji di hari Jumat sore untuk kaum ibu dan malam Jumat untuk kaum bapak. Cuma saat ini kita sama-sama mencari solusi tentang persoalan air bersih," kata Cut Salviani.
Keuchik Sarah Mane, Khairuddin, menyampaikan bahwa pihak gampong akan mendukung penuh, bahkan siapa menyediakan lahan untuk KWT. Namun kendala besar adalah pada Bahan Baku Pokok, yaitu air. Sarah Mane Krisis air.
Persoalan air bersih sebelum banjir, di desa Sarah Mane sudah aman, karena ada Pamsides (Pamsimas) yang siap mengalir via pipa ke rumah-rumah warga. Bahkan sudah masuk ke Bumdes Sarah Mane.
Tetapi pipa sanitasi Pamsimas diterjang banjir Sumatra pada tanggal 26 November tahun lalu. Sepanjang 1 KM pipa yang ditanam di bibir Krung meuredu, tepatnya di Gampong Lhok Sandeng, hanyut dibawa banjir. Sehingga Masyarakat berharap dari tampungan tadah hujan dan sumur tadah hujan.
Menjelang 8 bulan paska banjir, sumur sumur tadah hujan benar-benar kering. Bahkan saat ini telah mengganggu aktivitas belajar mengajar di Dayah Safinatus Salam, karena tidak ada air di kuliah, tempat para santri bersuci dan wudhuk.
Kalak BPBD Pidie Jaya, Okta Handipa mengatakan, bahwa persoalan air minum di Gampong Sarah Mane telah diusulkan Sumur Bor. Namun untuk Dayah itu wewenang Badan Dayah.
"Untuk Gampong Sarah Mane kita telah usulkan sumur bor. Telah kita usulkan. Namun persoalan air kulah di Dayah, untuk kebutuhan bersuci dan wudhuk, harus diusul ke Dinas Badan Dayah," sebut Okta Handipa.
Masyarakat Gampong Sarah Mane berharap agar sumur bor yang diusulkan akan segera dikerjakan. Mengingat paska banjir sudah jelang 8 bulan. (I)








